<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473</id><updated>2012-02-01T23:17:54.411-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Cerita dari Erryriyadi'/><category term='Oase Jiwa'/><category term='Artikel Seputar Perempuan'/><category term='Opini'/><category term='Dari Saya'/><category term='Artikel Seputar Kehidupan Anak'/><title type='text'>erryriyadi</title><subtitle type='html'>From My Mind, My Soul and My Heart</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-1393907732449031412</id><published>2007-07-22T19:40:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T19:56:26.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Kehidupan Anak'/><title type='text'>Selamat Hari Anak Nasional!!</title><content type='html'>Oh iya lupa, mongucapin buat seluruh anak Indonesia Selamat hari Anak ya!!!!!&lt;br /&gt;Hari ' besar' ini jatohnya emang kemaren, tapi kemaren sibuk getoh!&lt;br /&gt;Hari anak tuh sebenernya (menurut saya yah) bukan hanya utnuk anak Indonesia aja, tetapi bagi kita juga, setiap individu di Indonesia, mengingat anak-anak adalah aset bangsa yang merupakan salah satu tanggungjawab kita untuk mengantarkan mereka ke masa depan.&lt;br /&gt;Gw sampe sedih banget pas melihat sekumpulan anak-anak berkebutuhan khusus tampil di panggung untuk menghibur Bapak dan Ibu Presiden.Jangan dikira kalo kita melihat anak-anak berkebutuhan khusus yang menari dan menyanyi di panggung saat itu kita bisa lega, itu hanyalah sebagian kecil anak-anak berkebutuhan khusus yang beruntung karena dapat penanganan, coba lihat dan selidiki lagi, ada berapa anak sejenis yang terlantar?mereka tidak memperoleh kesempatan apa-apa untuk mengembangkan diri.&lt;br /&gt;jangankan bicara soal anak berkebutuhan khusus, anak normal pun di Indonesia banyak sekali yang tak tertangani dengan baik, ambil contoh anak-anak jalanan?pernah memperhatikan gak kalo jumlah mereka terus bertambah, kadang kalo dalam perjalanan saya sering memeperhatikan lampu-lampu merah yang biasa saya lewatin, saya perhatikan wajah-wajah mereka ada saja yang baru.&lt;br /&gt;Saya juga penah terenyuh sekali, saat suatu hari saya berjalan-jalan ke kota Bogor, di salah satu bunderan (taman) kalo tidak salah Bunderan Pajajaran (seberangnya Botani Square), saya melihat ada mobil pick up berhenti, di mobil itu memuat banyak anak di bawah umur, berpakaian rombeng dan membawa kantong-kantong lusuh berisi peralatan mengamen, lalu anak-anak itu turun dari mobil pick up, dan diisi kembali oleh anak-anak lainnya, sekan-akan itu sedang pergantian shift kerja.Kakak saya yang berdomisili di Bogor mengatakan hal itu sering ia lihat, ada jam tertentu mobil itu mengangut para anak-anak.&lt;br /&gt;See?berarti hal itu sudah jadi rahasia umum?tapi apa yang terjadi?adakah reaksi dari pemerintah?nothing!&lt;br /&gt;Itu hanya contoh kecil, masih banyak hal mengenaskan lainnya, seperti penggunaan tenaga kerja anak, yang sampai saat ini belum terbenahi, jadi inilah PR kita bersama.&lt;br /&gt;Selamat Hari Anak Nasional!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-1393907732449031412?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/1393907732449031412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=1393907732449031412&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/1393907732449031412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/1393907732449031412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/07/selamat-hari-anak-nasional.html' title='Selamat Hari Anak Nasional!!'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-4591927646182972854</id><published>2007-07-22T19:30:00.000-07:00</published><updated>2007-07-22T19:32:55.990-07:00</updated><title type='text'>Back to My Old Blog..</title><content type='html'>Waah senang sekali, saat mencoba-coba blog ini, ternyata bisa kembali, horeeeeeee...&lt;br /&gt;Sayangnya saya sudah memiliki blog aktive lainnya, tapi enggak masyalah lah yau, seneng bgt kok!Bisa kunjungin blog lain saya di &lt;a href="http://merrytariyadi.blogspot.com/"&gt;http://MErrytaRiyadi.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So far, daku enggak ngisi dulu, belom ada bahan untuk ngisi blog ini, tp janji besok or lusa udah ada bahan tulisan deh!&lt;br /&gt;ciaoooooo!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-4591927646182972854?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/4591927646182972854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=4591927646182972854&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/4591927646182972854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/4591927646182972854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/07/back-to-my-old-blog.html' title='Back to My Old Blog..'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-8856704260432926546</id><published>2007-01-12T00:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:22.431-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Kehidupan Anak'/><title type='text'>CERMIN PEREKONOMIAN NEGARA MELALUI PENDIDIKAN DAN KEBERADAAN BURUH ANAK</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RadJVd72xjI/AAAAAAAAACI/CYgKwIFdpfQ/s1600-h/Anak+Mengangkat+air.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5019060942889469490" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RadJVd72xjI/AAAAAAAAACI/CYgKwIFdpfQ/s400/Anak+Mengangkat+air.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menurut data pemerintah, terdapat sekitar 4 juta anak berusia antara 13-15 tahun di Indonesia tidak bersekolah, sekitar 1,5 juta usia 10-14 tahun masuk ke dalam angkatan kerja. Sebagian dari anak-anak tersebut beresiko terlibat dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anak putus sekolah pada tahap sekolah dasar sebahagian besar disebabkan oleh biaya yang harus mereka bayar untuk mengikuti program pendidikan. Anak-anak putus sekolah diusia dini menyebabkan timbulnya pekerja anak, sisanya menjadi pengangguran usia muda yang tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan cukup untuk bersaing di bursa tenaga kerja apalagi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.&lt;br /&gt;Fenomena memprihatinkan ini menjadi sebuah gambaran bagi perekonomian Indonesia . Keberadaan pekerja anak menjadi indikasi tingkat kemiskinan di Indonesia . Pekerjaan seringkali menyeret mereka dalam perbudakan dunia kerja yang akan mengisolasi mereka dari dunia luar, termasuk keluarga, teman dan dunia pendidikan. Kerja menyita semua waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar, bermain, mengenyam pendidikan yang cukup untuk meningkatkan kemampuan untuk menghadapi persaingan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak nantinya. Tidak memadainya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pekerja anak akan menjadi lingkaran kemiskinan dan berlanjut pada pengabaian hak bagi anak dan keluarganya. Keadaan ini berpengaruh pada pembangunan dan menimbulkan kerugian bagi negara dengan hilangnya satu sumber daya paling penting yaitu Sumber Daya Manusia.&lt;br /&gt;Meskipun anak yang bekerja mampu menghasilkan pendapatan dan mempertahankan kehidupan keluarga, namun tetap tidak akan membuat anak tersebut lepas dari lingkar kemiskinan, sebab pendapatan yang mereka peroleh tidak akan cukup untuk mencapai kehidupan yang layak dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan mereka. Pendidikanlah yang bisa mengeluarkan mereka dari keterpurukan.&lt;br /&gt;Masa paling penting untuk pembentukan manusia yang berkompeten adalah masa kanak-kanak dan remaja. Pendidikan yang cukup diperoleh pada masa ini akan menjanjikan pekerjaan yang layak nantinya. Pekerjaan yang layak memungkinkan setiap anak mendapatkan kehidupan yang nyaman dan perlindungan terhadap hak-hak azasi sepanjang hidupnya. Bila pendidikan tersebut tidak diperoleh dengan utuh, maka kemungkinan yang akan timbul adalah pekerja yang miskin akan pengetahuan dan kemampuan yang pada akhirnya tidak akan membawa mereka dan keluarganya keluar dari garis kemiskinan. Mereka juga tidak akan mampu memberikan pendidikan yang cukup bagi anak mereka karena terdapat kecenderungan bahwa anak yang putus sekolah juga memiliki orangtua yang juga tidak menyelesaikan pendidikannya, yang pada akhirnya akan menghambat laju pembangunan nasional.&lt;br /&gt;Terlepas dari fungsi pendidikan sebagai pendorong pembangunan nasional sebuah negara, kita harus ingat bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak. Negara melalui Undang-undang No 23 Tahun 2002 dengan jelas telah mencantumkan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan pada (Bab III, Pasal 9, Ayat 1), “ Setiap anak berhak mempero;eh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. ”&lt;br /&gt;Akses terhadap pendidikan dasar gratis bagi masyarakat adalah tugas mendesak untuk dilakukan negara. Dari hasil survey International Labour Organization (ILO) yang dilakukan dibeberapa wilayah Indonesia pada awal tahun 2006 mengenai sikap orang tua tentang pendidikan, 92 % responden orang tua menganggap pendidikan sangat penting untuk masa depan anak mereka, oleh karena itu mereka bersedia membayar dan bahkan berjuang agar anak-anak mereka mendapatkan hal itu. Tetapi mereka tidak mau menyumbang untuk fasilitas sekolah (mereka berasumsi bahwa uang sekolah termasuk ke dalam kategori fasilitas sekolah juga).&lt;br /&gt;Adanya pandangan positif yang diberikan masyarakat terhadap kualitas pendidikan dan kesediaan mereka mendukung sekolah harusnya menjadikan pekerjaan negara sedikit menjadi lebih mudah. Kesadaran akan pentingnya pendidikan dengan pengadaan pendidikan gratis bagi masyarakat akan meminimalkan timbulnya anak putus sekolah dan keterlibatan anak bekerja di usia dini. Pendidikan yang cukup memberikan bekal bagi anak memperoleh pekerjaan yang layak bagi dirinya dan keluarganya, yang pada akhirnya menyumbangkan peningkatan pembangunan perekonomian negara. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh : Endang Ekawaty &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-8856704260432926546?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/8856704260432926546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=8856704260432926546&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/8856704260432926546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/8856704260432926546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/cermin-perekonomian-negara-melalui.html' title='CERMIN PEREKONOMIAN NEGARA MELALUI PENDIDIKAN DAN KEBERADAAN BURUH ANAK'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RadJVd72xjI/AAAAAAAAACI/CYgKwIFdpfQ/s72-c/Anak+Mengangkat+air.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-914428655211786635</id><published>2007-01-11T20:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:22.744-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Kehidupan Anak'/><title type='text'>Konsep Kerja Bagi Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RacVVN72xhI/AAAAAAAAABw/uT30sYhkP6k/s1600-h/prevojegpayung29-11-1-06.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5019003763989857810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RacVVN72xhI/AAAAAAAAABw/uT30sYhkP6k/s320/prevojegpayung29-11-1-06.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Artikel ini menarik karena memiliki unsur ironi buat kita, dimana artikel ini menggiring kita pada pemikiran bahwa konvensi -konvensi, peraturan- peraturan tentang pekerja anak seolah menguap begitu saja tatkala kita menengok tak usah terlalu jauh, ke perempatan terdekat dari tempat anda sekarang saja kita bisa melihat bahwa konsep- konsep yang dipaparkan dibawah itu patah dan hancur luluh lantak begitu saja oleh sebuah fakta,fakta dimana Nasib anak masih morat- marit, pekerja anak tersebar di segala penjuru dengan resiko yang tetap tinggi, jadi untuk apa konsep- konsep indah ini bila tanpa implementasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu konsep pekerja anak (anak sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2003 ialah seseorang yang belum berusia dibawah 18 tahun termasuk anak yang masih berada dalam kandungan) dapat difahami berbeda baik pada batasan usia maupun pekerjaan yang boleh dan tidak dilakukan anak-anak. Perbedaan lingkungan sosial atau budaya dan kebudayaan suatu daerah atau komunitas diantara faktor menyebabkan perbedaan tersebut ( PKPA: 2003 ) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kehadiran pekerja anak terlihat menonjol menjelang abad 20, ketika sektor perkebunan dan industri gula modern mulai dikembangkan oleh kolonialisme Belanda. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun demikian, sesungguhnya sebelum itupun di berbagai daerah pekerja anak sudah sejak lama ada. Bahkan berdasarkan studi Koentjraningrat (1969) di wilayah pedesaan, anak berumur 8 tahun ikut membantu orang tua mencari nafkah dan dianggap sebagai hal biasa, keadaan ini terus berkembang sampai sekarang. Tahun 1990-an jumlah pekerja anak disinyalir makin bertambah sebagai salah satu akibat industrialisasi yang menyebabkan terjadinya proses pemiskinan di sebagian besar masyarakat pedesaan (Bagong Suyanto: 1999) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Periode awal pembicaraan tentang kebijakan pekerja anak sering diasumsikan bahwa semua pekerjaan yang dilakukan anak dianggap membahayakan. Akan tetapi sejak pertengahan tahun 1990-an mulai muncul pemahaman pekerjaan tertentu yang dilakukan anak dapat memberikan manfaat bagi mereka karena pekerjaan tersebut dapat memberikan pengalaman, pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan anak untuk survive ketika mereka dewasa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oleh sebab itu, pekerjaan ringan yang dapat dikerjakan anak setelah pulang sekolah, magang, pekerjaan yang dilakukan anak di lahan milik orang tuanya atau pekerjaan lain yang tidak dengan tegas dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan finansial tidak dapat dikategorikan sebagai pekerja anak. Istilah pekerja anak merujuk kepada pekerjaan yang dapat menghalangi anak bersekolah dan pekerjaan yang harus dilakukan anak dalam kondisi yang membahyakan kesehatan, fisik dan mentalnya ( Rogers &amp;amp; Swinnerton dalam &lt;a href="http://www.georgetwon.edu/faculty/rogersc/Papers/exploit/pdf"&gt;http://www.georgetwon.edu/faculty/rogersc/Papers/exploit/pdf&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;Mediha Murshed ( &lt;a href="http://www.jia.sipa.columbia.edu/"&gt;http://www.jia.sipa.columbia.edu/&lt;/a&gt;/ media/pdf/children_issu_cordies_essy.pdf) mengkategorikan pekerja anak yaitu:&lt;br /&gt;• Apprenticeship (magang) . Banyak anak melakukan magang sebagai salah satu cara atau syarat memasuki pasar kerja dan orang tua cenderung menganggap kegiatan ini bermanfaat karena memberikan keahlian yang dibutuhkan anak untuk memperoleh kesempatan kerja sekaligus mendapat uang saku. Akan tetapi seorang anak yang melakukan magang cenderung mengalami eksploitasi karena ia tidak memiliki daya tawar dan dibayar sangat rendah &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;• Waged labor. Ini bisa ditemukan dalam sektor industri dan sektor informal dan biasanya lebih eksploitatif dari magang. Meski dalam konteks ini anak mendapat bayaran lebih banyak dibanding ketika ia magang, namun jenis ini juga potensial menyebabkan anak mengalami berbagai kekerasan, karena sistem kerja yang berlaku bisanya tidak memberikan perhatian khusus bagi anak dan tidak memperdulikan aspek perlindungan anak &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;• Bonded labor (kerja ijon) . Ini dianggap sebagai pekerjaan yang paling eksploitatif bagi anak dan biasanya terdapat pada sektor informal dan pedesaan. Dalam konteks ini anak dipaksa bekerja sebagai cara untuk membayar hutang keluarganya kepada majikan. Anak benar-benar berada dalam posisi yang serba sulit dan tidak memiliki daya tawar sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konvensi ILO No. 182 tentang Pelarangan dan Tindakan Segara Penghapusan Bentuk bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak mengkategorikan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak:&lt;br /&gt;• Segala bentuk perbudakan atau praktek jenis perbudakan seperti penjualan dan perdagangan anak, kerja ijon ( debt bondage) , dan penghambat ( serfdom) serta kerja paksa atau wajib kerja, termasuk pengerahan anak secara paksa atau wajib untuk dimanfaatkan dalam konflik bersenjata&lt;br /&gt;• Pamanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk pelacuran, untuk produksi pornografi atau untuk pertunjukan-pertunjukan porno&lt;br /&gt;• Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk kegiatan terlarang, khususnya untuk produksi dan perdagangan obat-obatan sebagaimana diatur dalam perjanjian internasional yang relevan&lt;br /&gt;• Pekerjaan yang sifat atau keadaan tempat dimana pekerjaan itu dilakukan dapat membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bentuk-bentuk pekerjaan yang membahayakan bagi anak seperti:&lt;br /&gt;• Anak yang dilacurkan&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja di pertambangan&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja sebagai penyelam mutiara&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja di sektor konstruksi&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja di jermal&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja sebagai pemulung sampah&lt;br /&gt;• Anak yang dilibatkan dalam produksi dan kegiatan yang menggunakan bahan peledak&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja di jalanan&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja di industri rumah tangga&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja di perkebunan&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja pada penebangan, pengolahan dan pengangkutan kayu&lt;br /&gt;• Anak yang bekerja pada industri dan jenis kegiatan yang menggunakan bahan kimia yang berbahaya (ILO-IPEC, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 235 tahun 2003 tentang Jenis-Jenis Pekerjaan yang Membahayakan Kesehatan, Keselamatan atau Moral Anak, pekerja anak di lepas pantai atau laut dalam, di kapal serta mengangkut beban di atas 12 kg bagi anak laki-laki dianggap sebagai pekerjaan yang terburuk bagi anak&lt;br /&gt;Konvensi ILO No. 138 (Disahkan Pemerintah Indonesia melalui UU No. 1 tahun 2000) mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja dinyatakan bahwa u sia minimum bagi anak untuk diperbolehkan bekerja adalah 15 tahun jika pekerjaan itu tidak menganggu kesehatan, keselamatan, pendidikan dan pertumbuhannya. Sementara usia minimum untuk diperbolehkan bekerja atau melakukan pekerjaan yang berbahaya tidak boleh kurang dari 18 tahun.&lt;br /&gt;Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan, p engusaha dilarang mempekerjakan anak (Pasal 68). Ketentuan pasal 68 tersebut dikecualikan bagi anak berusia 13-15 untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosialnya. Khusus bagi anak perempuan yang berusia di bawah 18 tahun dilarang dipekerjakan antara jam 23.00-07.00 pagi. UU ini juga menegaskan p engusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus memenuhi persyaratan yaitu: i zin tertulis dari orang tua atau wali, perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali, waktu kerja maksimum 3 jam, dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah, keselamatan dan kesehatan kerja, adanya hubungan kerja yang jelas serta anak menerima upah sesuai ketentuan yang berlaku&lt;br /&gt;Banyak faktor menyebabkan anak-anak terpaksa harus bekerja, baik untuk membantu nafkah keluarga atau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Kemiskinan, sering dijadikan faktor penyebab. Menteri Hak Asasi Manusia dan Pembangunan Norwegia, Hilde Frafjord Johnson, dalam Konferensi Internasional mengenai Pekerja Anak di Oslo, Norwegia, Oktober 1997 mengatakan: pekerja anak tak hanya merupakan konsekuensi dari kemiskinan, tapi juga biaya dari kemiskinan itu, hingga anak tidak bisa sekolah. Tekanan terbesar menyebabkan anak bekerja di sektor membahayakan adalah kemiskinan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurut pakar ekonomi, dengan mengirimkan anak memasuki pasar kerja, keluarga miskin itu tampak tidak mengikuti tingkah laku ekonomi rasional, tapi hanya memiliki sedikit alternatif. Pilihan mereka antara mempertahankan hidup jangka pendek dan perkembangan anak jangka panjang sangat terbatas. Kemiskinan lalu melahirkan buruh anak dan lalu mengabadikan kemiskinan, ketidakadilan, dan diskriminasi. Data ILO menunjukkan, secara rata-rata, anak-anak yang bekerja menyumbangkan sekitar 20-25 persen kepada pendapatan keluarga. Dalam ekonomi dunia yang nilainya mencapai 28 trilyun dollar AS setahun, lebih semilyar manusia masih hidup dengan penghasilan kurang dari satu dollar sehari. Statistik Bank dunia memperlihatkan, lebih dari 1,3 milyar manusia harus hidup dengan penghasilan kurang dari satu dollar sehari dan dua milyar lainnya secara marginal berada pada kondisi sedikit lebih baik. UNICEF memperkirakan, 50 persen anak di dunia berasal dari keluarga miskin. ( http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/10/27/0042.html) . &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang masuk ke pasar kerja menjadi pekerja anak merupakan rasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang dilanda kemiskinan. Konstalansi ini menjadi legitimasi mempekerjakan anak-anak, bahkan dengan pekerjaan yang eksploitatif, upah murah dan pekerjaan yang berbahaya (Muhammad Jhoni, 1997). Keadaan pekerja anak ini dilematis, disatu sisi anak-anak bekerja untuk memberikan konstribusi pendapatan keluarga namun mereka rentan dengan eksploitasi dan perlakuan salah. Pada kenyataannya sulit untuk memisahkan antara partisipasi anak dengan eksploitasi anak (Irwanto, 1995).&lt;br /&gt;Pekerja anak, dengan demikian, walaupun masih teramat sulit untuk dihapuskan di Indonesia tapi bukan berarti kita bersikap membiarkan atau malah turut memberikan konstribusi secara langsung tidak langsung bagi bertambahnya jumlah anak-anak yang bekerja terutama di sektor-sektor yang terburuk bagi anak. Pekerja anak adalah masalah besar yang ada di sekitar kita sehingga partisipasi semua pihak sangat dituntut untuk terlibat dalam upaya-upaya yang mungkin dilakukannya untuk mencegah dan menanggulanginya. Bersama kita bisa dan bersama kita untuk mencegah dan melindungi anak-anak dari pekerjaan yang membahayakan fisik, mental, kesehatan serta masa depannya, karena masa depan yang kita berikan kepada anak haruslah masa depan yang cerah (Sumber: Jermal Kaji Ulang: PKPA: 2003) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-914428655211786635?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/914428655211786635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=914428655211786635&amp;isPopup=true' title='29 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/914428655211786635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/914428655211786635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/konsep-kerja-bagi-anak.html' title='Konsep Kerja Bagi Anak'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RacVVN72xhI/AAAAAAAAABw/uT30sYhkP6k/s72-c/prevojegpayung29-11-1-06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>29</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-922116849251937385</id><published>2007-01-09T23:44:00.000-08:00</published><updated>2007-01-09T23:50:39.257-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita dari Erryriyadi'/><title type='text'>Sepatu</title><content type='html'>Sepatu…sepasang benda yang menyelimuti kaki, hanya itukah?&lt;br /&gt;Sebagian orang mengatakan ya!, sebagian lainnya bilang, more than to covering your feet but its part of fashion, penunjang penampilan, lamabang kesuksesan, supply kepercayaan diri, sumber kenyamanan dan bahkan seorang teman (olivia…lip, gw pinjem istilah lu yak) sepatu adalah investasi…lho kok?&lt;br /&gt;Rame ya pendapat orang tentang sepatu…&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri sepatu adalah benda yang memiliki daya magis tertentu dan selalu memaksa saya untuk merogoh kocek untuk membelinya, konsumtif ya?&lt;br /&gt;Entah kenapa saya begitu tertarik kepada sepatu, saya sangat gila untuk memakai sepatu indah dan nyaman. Walau kegilaan saya ini masih dalam garis normal ya, dalam artian saya engga pernah sampai tersirep untuk mengeluarkan kocek jutaan demi memperoleh sepatu idaman.&lt;br /&gt;Sepatu sebagai penunjang penampilan, iya saya setuju, karena saya sebagai orang yang suka me-matching- matchingkan pakaian (konsumtif lagi gak sih?), sangat merasa perlu sepatu yang sepadan dengan tas yang dikenakan. Ada orange day, black white day, blue day , green day, etc. Itu adalah kreasi saya menyemarakkan hari- hari saya. Diharapkan dengan mengambil tema warna setiap hari yang diwakili dari pakaian, sepatu dan tas saya berharap ada energi berbeda dan semangat berbeda pula yang dipancarkan dari warna- warna pilihan saya hari itu.&lt;br /&gt;Dan sepatu adalah salah satu unsur penting dari semua itu.&lt;br /&gt;Saking cintanya saya pada sepatu, mertua saya pernah bilang kalo saya itu replika-nya Imelda Marcos, oh damn….im not lah ya, im still realistics!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita soal kecintaan saya sama sepatu, saya sampai pernah menyimpan sepatu kesayangan saya yang sudah rusak, entah untuk apa, yang pasti masih senang saja memandanginya. Ada 2 sepatu yang pernah saya perlakukan istimewa seperti itu, keduanya bukan sepatu mahal yang harganya jutaan, mereka hanyalah sepatu dari kelas biasa namun memiliki karakter yang unik mungkin sebagian teman mengatakan kalau sepatu- sepatu itu “erroy banget!!!”dan kedua sepatu itu pernah memberikan pengalaman unik buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu pertama adalah sepatu pantofel kulit berpotongan mocasin yang saya beli di Butik Linea, saya pakai ke kampus untuk menimbulkan sensasi semangat baru kalau lagi jenuh. Sepatu ini bahannya kulit, warnanya hitam, potongannya sangat ramping dan sangat elegan. Sepatu tersebut selalu saya padankan dengan tas bergaya post man bag sporty besar berwarna senada, cool….Sepatu itu sempat mendapat pujian dari teman- teman, “modis dan lucu banget” kata mereka. Mungkin karena bentuknya yang khas, yaitu berujung lancip ala sepatu aladin (walau lancipnya engga sampai menikung ke atas yah…).&lt;br /&gt;Sepatu ini punya sejarah khusus untuk saya, si lancip manis ini pernah memompa kepercayaan diri saya saat saya ber-orasi mendukung pemilihan Ketua BEM periode 2002-2003, belive it or not, saat saya sedang mempersiapkan orasi saya menatap sepatu manis saya itu lalu ada semacam kekuatan berupa kepercayaan diri mengalir ke diri saya, magis banget, tapi nyata…&lt;br /&gt;Sepatu lainnya yang berkesan di hati saya adalah sepatu fantofel ramping model moccasin juga, bermotif lurik hitam putih, sepatu itu sudah tamat riwayatnya 3 tahun lalu, namun pasangan sepatu itu (handbag warna senada, merk sama, dibeli di butik sama), masih setia terpajang di lemari saya. Sepatu itu sempat membuat saya dikejar sama turis Jepang di hingga masuk lift just only want to ask to me, “where did you buy that shoes?”&lt;br /&gt;Selain itu, saya punya sejarah khusus lainnya dalam sepatu itu, saat saya mengadakan event tahunan “Law at the Mall”, saya mulai panic karena salah satu bintang tamu yaitu Indra Bekti belum kunjung datang, saya udah bolak balik call beliau “De, dimana lu?”, “De, masih lama gak?”, bolak balik stress sampai saya terduduk cemas lalu menunduk ke bawah dan tak sengaja menatap sepatu cantik hitam putih saya, lalu saya pun lamat- lamat mengagumi kecantikan sepatu saya itu, bengong sambil senyum- senyum melihat kaki saya yang terbalut benda cantik itu, sampai tiba- tiba terdengar “Maapin gw Roy, telat banget yah…” Indraaaaaaaaaaa Bektiiiiiiiiii!!!!&lt;br /&gt;Fuih….lega banget, namun saat suara khas si Indra membuyarkan lamunan saya saat itu, sebenarnya saya tengah terhipnotis sama sepatu saya itu, jadi setidaknya rasa cemas itu telah lenyap perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua sepatu itu setelah 2 tahun tergolek tak berdaya di kotak-nya masing- masing karena alas-nya yang sudah rusak dan tidak mampu diperbaiki, akhirnya saya buang juga ke tukang sampah keliling. Sebelumnya saya sempat berniat untuk menguburnya, namun Tori buru- buru menjitak kepala saya dan bilang “please realistis  deh…”&lt;br /&gt;Akhirnya dengan berat hati saya merelakan sepatu kesayangan saya menumpang gerobak sampah dan entah apa nasib sepatu bersejarah saya itu selanjutnya…Kemungkinan terbesar sih di daur ulang, yah setidaknya mereka kembali bermanfaat lah setelah beberapa tahun memberi makna buat saya, menyamankan kaki saya dan setia saya injak untuk menjadi bantalan kaki saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See?sepatu means a lot for me!ini nyata loh, ini truth happened loh in my life, I love shoes more than another things, I love shoes ‘cause its have magical power for me, I love shoes deh pokoknya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-922116849251937385?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/922116849251937385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=922116849251937385&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/922116849251937385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/922116849251937385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/sepatu.html' title='Sepatu'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-4266051700157417486</id><published>2007-01-09T22:41:00.000-08:00</published><updated>2007-01-09T23:41:46.520-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Televisi Teman atau Lawan?</title><content type='html'>Seiring dengan berjalannya waktu, berkembangnya teknologi dan ragam kepentingan dan kebutuhan masyarakat, televisi saat ini telah menjelma menjadi sosok penghibur, pemberi informasi, media komunikasi, media pemasaran dan media aktualisasi.&lt;br /&gt;Tak luput dari itu semua ternyata televisi, memiliki satu karakter yang cukup berbahaya yaitu merupakan media kapitalisme. Melalui televisi, semua orang seolah diajak untuk berfikir mengedepankan materi, dari tidak tau produk brand A menjadi tau, dari sekedar menggunakan produk B menjadi tau produk sejenis produk B lainnya yang lebih ini dan itu-nya dari produk B. Dari tidak berniat mencicipi masakan jenis C jadi tertarik untuk mencoba, dan segala macam dari gak butuh menjadi butuh, dari engga ingin jadi ingin banget…&lt;br /&gt;Itulah televisi, punya daya tarik magis yang sangat evektif untuk mengajak kita menjadi konsumtif. Seolah hal ini mewabah dan bahkan masyarakat kebanyakan pun menyadari dengan pasti adanya wabah ini, kadang sering kita dengar istilah “korban iklan”, "korban sinetron" yang sering jadi gurauan atau sindiran pada percakapan masyarakat umum. Berarti dapat ditarik kesimpulan bahwa secara sadar masyarakat &lt;em&gt;aware&lt;/em&gt; adanya wabah yang ditimbulkan oleh televisi ini.&lt;br /&gt;Wabah konsumtif ini juga dipicu dengan adanya tayangan- tayangan yang merekomendasikan tempat makan tertentu, barang- barang mewah, mobil- mobil keluaran baru dan lainnya yang bersifat ajakan untuk membeli sesuatu yang lebih menarik, lebih canggih, lebih memuaskan dan lainnya, namun intinya adalah strategi pemasaran bagi produsen dan penyuntikan pola konsumtif bagi pemirsa televisi. Untuk hal ini saya masih merasa &lt;em&gt;nowhere&lt;/em&gt; untuk menyalahkan siapa yang salah apabila pola konsumerisme melaju semakin kencangnya saat ini.&lt;br /&gt;Mau menyalahkan produsen, yang jelas tujuan utamanya adalah mencari keuntungan? ataukah menyalahkan penonton televisi? Sebaiknya mengambil jalan tengah dengan meletakkan semuanya dalam posisi normal, sepanjang yang dilakukan oleh para produsen tidak menyalahi norma- norma kemasyarakatan maupun keagamaan serta tidak mengajak masyarakat menuju kebatilan, so why not?tinggal pintar- pintarlah penonton mencerna mana yang perlu ia konsumsi dan ikuti mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menjadi masalah belakangan ini adalah gerak laju kapitalisme kaum pengusaha ini berlari terlalu kencang, sehingga tidak lagi berjalan sesuai dengan persyaratan jalan tengah yang saya sebut diatas. Mereka cenderung mematahkan norma- norma yang ada, dengan alasan adanya perubahan jamanlah, kebutuhan masyarakat akan realitaslah, sampai- sampai menggunakan senjata kebebasan seni sebagai alasan mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tayangan televisi semakin gamblang dan transparan memaparkan fakta dan data, yang terlihat saking begitu transparan-nya sampai tidak mengindahkan kepentingan kelompok tertentu, dalam hal ini adalah anak- anak.&lt;br /&gt;Gaya lari ngejar setoran ala kaum kapitalis ini, melaju kencang tanpa memikirkan dampak pada anak- anak. Pada tayangan kartun yang selama ini notabene-nya adalah tayangan untuk anak, ternyata banyak yang menyajikan adegan kekerasan bahkan nyerempet ke pornografi dan akhlak, &lt;em&gt;let say&lt;/em&gt; kartun Shin chan, kita semua sependapat kalau tokoh Shin Chan itu sama sekali tidak mendidik, apakah wajar seorang anak TK mengintip rok gurunya?apakah wajar seorang anak TK suka meniru kebiasaan percintaan ayah dan ibunya?&lt;br /&gt;Lalu tayangan sinetron remaja (SD, SMP dan SMA) yang ditayangkan petang dan kemungkinan masih jutaan pasang mata anak- anak sedang memelototi televisi, sementara tayangan sinetron itu bukan cuma menggambarkan, menurut saya ya, tapi juga memprovokasi anak- anak untuk bertindak amoral, &lt;em&gt;let say&lt;/em&gt;, anak SMP pacaran trus cium- ciuman (maaf ya kasar kedengerannya soalnya gak dapet padanan kata lain yang cukup manis-red), trus penggambaran persaingan remaja putri memperebutkan cowok menggunakan cara- cara kekerasan, acara talk show ataupun komedi situasi yang menggunakan &lt;em&gt;joke- joke sex&lt;/em&gt; yang vulgar, dan parahnya tayangan kekerasan kelas berat kayak smack down gampang saja dipertontonkan di jam rentan tersebut, dengan alasan rating tinggi, tanpa mengindahkan dampak gila yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;Tragedi smack down yang cukup banyak menelan korban belakangan ini, semestinya menjadi pelajaran buat kita untuk lebih kritis berteriak kepada pemerintah supaya menjewer para pemain di industri pertelevisian untuk kembali ke jalur bisnis normal.&lt;br /&gt;Saya lagi berfikir, mau sebanyak apa lagi korban yang jatuh karena tayangan televisi kalau kita tidak cermat, jikalaupun kita telah cermat mungkinkah anak- anak kita bisa tetap selamat dari bahaya wabah televisi? Toh pada tragedy smack down banyak anak yang orang tuanya telah cermat untuk melarang tayangan smack down dirumahnaya tetap saja menjadi korbannya.&lt;br /&gt;Jadi tidak menutup kemungkinan apabila kita dan anak- anak kita telah kita cermati, dalam kehidupan sosial diluar rumah tetap saja bisa menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pilihan semakin sulit bagi kita, namapaknya tak ada pilihan lain selain mendorong pemerintah untuk menertibkan industri pertelevisian agar kembali berjalan dengan tertib tanpa menyerempet merusak kepentingan lainnya apalagi menyerempet kepentingan perkembangan moral bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ragam informasi yang ditayangkan televisi yang tujuan mulia awalanya adalah untuk membuka cakrawala pemikiran penonton, namun belakangan ini semakin tidak relevan, mungkin sekarang bukan sebagai pembuka cakrawala julukan yang tepat untuk tujuan televisi tetapi pembuka pintu petaka belaka.&lt;br /&gt;Jadi televisi teman atau lawan sih sebenarnya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-4266051700157417486?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/4266051700157417486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=4266051700157417486&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/4266051700157417486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/4266051700157417486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/televisi-teman-atau-lawan.html' title='Televisi Teman atau Lawan?'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-6521977598534997628</id><published>2007-01-09T20:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:23.051-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Oase Jiwa'/><title type='text'>Jangan Jadi Gelas</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RaRzrt72xgI/AAAAAAAAABk/W2tPg83SdMY/s1600-h/sunset.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5018263079699793410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RaRzrt72xgI/AAAAAAAAABk/W2tPg83SdMY/s320/sunset.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnyabelakangan ini selalu tampak murung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuktersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sangmurid muda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimanayang diminta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kataSang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum airasin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masihmeringis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringiskeasinan."Sekarang kau ikut aku." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpabicara. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, danmembawanya ke mulutnya lalu meneguknya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketika air danau yang dingindan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanyakepadanya, "Bagaimana rasanya?"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumberair di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yangtersisa di mulutnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air danmeminumnya lagi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalahdalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang haruskau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuaiuntuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurangdan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pundemikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yangbebas dari penderitaan dan masalah."Si murid terdiam, mendengarkan."Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jadi Nak,supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbudalam dadamu itu jadi sebesar danau." &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-6521977598534997628?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/6521977598534997628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=6521977598534997628&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/6521977598534997628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/6521977598534997628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/jangan-jadi-gelas.html' title='Jangan Jadi Gelas'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RaRzrt72xgI/AAAAAAAAABk/W2tPg83SdMY/s72-c/sunset.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-1448751254365060919</id><published>2007-01-04T02:43:00.000-08:00</published><updated>2007-01-09T22:03:22.449-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Saya'/><title type='text'>Selamat Datang Tahun Baru 2007</title><content type='html'>Telat ya?saya udah telat ya untuk ngucapin selamat tahun baru?mungkin enggak yah, soalnya inikan baru hari keempat di tahun 2007.&lt;br /&gt;Begitu banyak cerita indah yang telah kita lewati di tahun 2006, tapi jangan lupa masih banyak PR dari tahun 2005 yang juga belum mampu kita selesaikan, ditambah lagi PR kita dari tahun 2006.Bencana- bencana alam yang masih menyisakan PR rekonstruksi, bahkan special case seperti Lumpur lapindo seolah unsolution bagi kita, belum lagi kasus demi kasus moralitas yang mendesak kita terus kerja keras untuk memperbaikinya sebelum menimbulkan efek domino bagi anak- anak bangsa, kasus- kasus korupsi yang tiada habisnya, peredaran Narkoba yang seolah tak terkejar, masalah perekonomian kita yang begitu morat- maritnya, dan segudang masalah bangsa lainnya yang menggedor nurani kita, kadang saya hanya bertanya akankah mampu kita selesaikan semua permasalahan ini?&lt;br /&gt;Dengan berbekal Bismillah dan keteguhan hati, saya yakin kita mampu..., semoga saja Allah masih mengulurkan tangannya dibalik cobaan berat ini..., amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmmh...setelah lelah dengan memikirkan kemungkinan kebangkitan bangsa, pada malam tahun baru lalu, saya dan suami memutuskan untuk menghadiri perayaan menyambut tahun baru di kediaman keluarga Om Rantauan janim di Bukit Sentul, bersama Gank 13 meski engga kumpul semua, saya merasa begitu rileks dan bahagia, suatu permulaan yang cukup baik saya rasa untuk memulai lembar baru di tahun 2007 dan semoga kebahagiaan malam itu akan mentransfer energi bagi saya untuk terus memperbaiki diri, amien...&lt;br /&gt;Selamat Tahun Baru ya blogers...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-1448751254365060919?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/1448751254365060919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=1448751254365060919&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/1448751254365060919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/1448751254365060919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/selamat-datang-tahun-baru-2007.html' title='Selamat Datang Tahun Baru 2007'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-4647629826942869637</id><published>2007-01-04T02:10:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:23.166-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Saya'/><title type='text'>Musibah Jatuhnya Pesawat Adam Air</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZzY1ojdhBI/AAAAAAAAABY/ezgJ2dQRZ6Y/s1600-h/adamair.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5016122500914709522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZzY1ojdhBI/AAAAAAAAABY/ezgJ2dQRZ6Y/s320/adamair.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini hari ke empat dari terjadinya bencana hilangnya pesawat Adam Air tujuan Manado, sampai hari ini belum ada kejelasan apakah pesawat naas tersebut jatuh ke laut, kehutan ataukah jangan- jangan meledak di udara?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Situasi sulit ini dipicu dengan terjadinya berita yang cukup simpang siur, kemarin dikabarkan ada 12 orang penumpang yang selamat, setelah dilakukan konferensi pers dan berita tersebut telah meluas tiba- tiba terjadi lagi konfirmasi bahwa berita itu tidak benar, how come?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Memalukan sekaligus menyedihkan, koordinasi macam apa yang terjadi disana disaat situasi penuh duka dan pengharapan ini?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pencarian terasa begitu sulit, karena pesawat naas tersebut seolah hilang tanpa jejak. Bila jatuh kelaut mengapa tak sedikitpun ada tanda- tanda apungan barang dan deteksi benda logam?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalaupun meledak di udara, apa mungkin tak berbekas sama sekali?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan kalaupun jatuh di hutan atau pegunungan, mengapa begitu sulitnya dicari padahal armada pencarian telah dikerahkan melalui udara dan daratan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rasanya masalah ini membuat kita semua berharap- harap cemas, kemudian kecemasan itu membuat kita melupakan bagaimana bisa terjadinya musibah ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari beberapa situs berita, disebutkan bahwa pesawat ini telah mengalami masalah 48 jam sebelum terjadi kecelakaan misterius ini. Namun yang patut dipertanyakan, mengapa pesawat yang jelas tidak &lt;em&gt;"fit"&lt;/em&gt; masih tetap dipergunakan dalam rentang waktu yang tak berjauhan?bagaimanakah kita dapat mempercayai bagian engine pesawat dapat dengan begitu mudah dan cepatnya menyelesaikan perbaikan pesawat yang telah menelantarkan ratusan penumpang beberapa jam sebelumnya, kemudian pesawat naas itu kembali harus terbang dengan jarak tempuh yang cukup jauh?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari hal semacam ini kita bisa menyimpulkan jika pihak Adam Air tidak memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang, seolah nyawa ratusan penumpang dengan begitu mudahnya di pertaruhkan di atas ribuan kaki diatas tanah hanya demi keuntungan pihak perusahaan?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya cuma berharap hal ini menjadi teguran keras kalau perlu dianggap tamparan keras bagi semua airlines di Indonesia dan semoga pihak terkait bisa lebih concern terhadap standar &lt;em&gt;"kesehatan"&lt;/em&gt; sebuah pesawat untuk terbang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semoga juga pemerintah menindak tegas pihak Adam Air dalam masalah ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Untuk semua korban, saya masih terus berdoa semoga ada mukjizat yang akan menyelamatkan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Serta untuk segenap keluarga korban, saya berdoa semoga diberi ketegaran dan ketabahan menghadapi cobaan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-4647629826942869637?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/4647629826942869637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=4647629826942869637&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/4647629826942869637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/4647629826942869637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/musibah-jatuhnya-pesawat-adam-air.html' title='Musibah Jatuhnya Pesawat Adam Air'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZzY1ojdhBI/AAAAAAAAABY/ezgJ2dQRZ6Y/s72-c/adamair.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-213056630653106394</id><published>2007-01-02T01:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:23.360-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Perempuan'/><title type='text'>Kawin Sirri</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZovbIjdhAI/AAAAAAAAABI/qSXh0Y1BYsE/s1600-h/Perempuan+Bali.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5015373278229660674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZovbIjdhAI/AAAAAAAAABI/qSXh0Y1BYsE/s320/Perempuan+Bali.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menanggapi banyaknya praktik poligami yang dijalankan tanpa melalui prosedur yang dianjurkan oleh UUP no. 1 tahun 1974, maka istilah Kawin Sirri adalah hal yang sering kali disebut- sebut. Kawin Sirri sendiri banyak dilakukan oleh pasangan yang juga tidak ada kaitannya dengan urusan poligami, lantas kenapa Kawin Sirri menjadi pilihan mereka?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Itulah yang patut dipertanyakan, kenapa banyak wanita yang memilih menjalankan perkawinan semacam ini, padahal secara hukum perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sifatnya sirri tidak mendapatkan perlindungan hukum.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lantas bagaimana secara agama?apakah agama Islam mensyahkan perkawinan yang dilakukan seperti ini?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam sebuah situs Islam, saya berhasil menemukan jawaban akan pandangan Islam terhadap Kawin Sirri itu sendiri, semoga bisa memberikan pencerahan tentang tidak dianjurkannya sebuah pernikahan yang dijalankan secara sirri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Kawin Sirri&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menikah dan membina rumah tangga merupakan keinginan semua orang. Sudah tentu yang diharapkan adalah hubungan yang harmonis, saling percaya, saling melindungi, dan saling mendukung. Mitsaqan ghalidan (perjanjian yang amat kokoh), demikianlah al-Qur’an menggambarkan hubungan pernikahan antara pasangan suami istri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Istilah ini memberikan sinyal bahwa hubungan suami istri harus dibina dalam suatu hubungan dua arah yang saling menguatkan. Satu pihak menjadi pendukung dari yang lain, dan tidak ada satu pihak pun yang dirugikan atau hak-haknya terancam.Dalam rangka itulah, untuk mewujudkan sebuah keluarga yang benar-benar menggambarkan Mitsaqan ghalidan, agama membuat beberapa aturan dalam pernikahan. Dan hal itu dimulai sejak proses pertama kali lembaga perkawinan terbentuk, yakni pada saat berlangsungnya akad nikah. Diwajibkannya seorang wali dan dua orang saksi merupakan suatu tindakan preventif (pencegahan) untuk melindungi kedua mempelai, terutama si perempuan, bila di kemudian hari ada batu sandungan yang tidak diinginkan muncul dalam bahtera perkawinan mereka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda dalam sebuah Hadis:Artinya: Dari Aisyah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil” (HR. Daruquthni)&lt;br /&gt;Dalam konteks kekinian, khususnya di Indonesia, aturan itu ditambah lagi dengan kewajiban untuk mencatatkan perkawinan itu ke Kantor Urusan Agama (KUA), dengan maksud agar kedua pasangan itu mendapat “payung hukum” jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apabila dalam mengarungi kehidupan berrumah tangga terdapat persoalan, mereka mendapat bantuan dari hukum yang berlaku. Dalam istilah ushul fiqh, kebijakan ini disebut dengan mashlahah mursalah, yakni suatu ketentuan yang tidak diatur dalam agama (fiqh) tetapi tidak bertentangan dengan hukum yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis. Artinya, kewajiban mencatatkan perkawinan di KUA tidak pernah diatur dalam fiqh, namun semangat dari aturan itu tidak bertentangan, bahkan sejalan dengan diwajibkannya saksi ke dalam rukun nikah.Kaitannya dengan nikah sirri (dikenal juga nikah di bawah tangan), ada dua pengertian yang terkait dengan istilah ini. Pertama, nikah sirri yang didefinisikan dalam fiqh, yakni nikah yang dirahasiakan dan hanya diketahui oleh pihak yang terkait dengan akad. Pada akad ini dua saksi, wali dan kedua mempelai diminta untuk merahasiakan pernikahan itu, dan tidak seorangpun dari mereka diperbolehkan menceritakan akad tersebut kepada orang lain. (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, juz VII, 81). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari definisi pertama ini, bisa saja orang yang mencatatkan pernikahannya ke KUA disebut nikah sirri dalam pengertian fiqh jika semua pihak diminta merahasiakan pernikahan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kedua, nikah sirri yang dipersepsikan masyarakat, yakni pernikahan yang tidak dicatatkan secara resmi ke KUA. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Masyarakat menganggap bahwa pernikahan yang dilaksanakan walaupun tidak dirahasiakan, tetap dikatakan nikah sirri selama belum didaftarkan secara resmi ke KUA. Mengenai hukum pernikahan yang dirahasiakan, Imam Malik menyatakan pernikahan tersebut batal, sebab pernikahan itu wajib diumumkan kepada masyarakat luas. Sedangkan pendapat Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah menyatakan nikah sirri hukumnya sah, tapi makruh dilakukan. (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz VII, hal 71, Bidayatul Mujtahid, juz II, hal 15 )Dari pendapat ulama ini, tampak ada “keberatan” dari para ulama terhadap nikah sirri. Mengingat pada prinsipnya, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam tidak setuju dengan pernikahan jenis ini. Dalam hadis disebutkan:Dari Amr bin Yahya al-Mazini, Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak senang pada nikah sirri, sehingga pernikahan itu dirayakan dengan tabuhan rebana” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;Karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam sangat menganjurkan untuk mengumumkan pernikahan kepada masyarakat luas, sebagaimana sabdanya:&lt;br /&gt;Dari Amir bin Abdillah RA, dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Umumkanlah pernikahan” (HR. Ahmad)Kenapa harus diumumkan? Di samping sebagai pemberitahuan atas berlangsungnya pernikahan, juga terkandung maksud agar masyarakat menjadi “saksi” atas adanya ikatan antara dua insan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Masyarakat menjadi tahu bahwa sepasang insan itu telah terikat dalam perkawinan yang sah dengan segala konsekuensinya. Jika ada pihak yang melanggar komitmen pernikahan, minimal masyarakat dapat memberikan “sanksi moral” kepada pihak yang melanggar.Sedangkan hukum nikah yang tidak dicatatkan ke KUA, walaupun tetap dianggap sah menurut agama karena telah memenuhi syarat dan rukun nikah, namun perkawinan di bawah tangan ini masih menyisakan beberapa persoalan, setidaknya orang tersebut dianggap telah berdosa karena mengabaikan perintah al-Qur’an untuk mengikuti aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah (ulil amri), sebagaimana firman Allah SWT:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, patuhlah kamu sekalian kepada Allah SWT dan patuhlah kamu kepada Rasul dan ulul amri di antara kamu” (al-Nisa’, 4: 59)&lt;br /&gt;Di sisi lain, perkawinan semacam ini mengandung risiko yang besar dan sangat merugikan, terutama bagi pihak perempuan yang tidak dapat berbuat apa-apa, ketika terjadi perselisihan dalam biduk rumah tangga. Ada banyak kasus di mana seorang perempuan diterlantarkan suaminya akibat nikah sirri, tanpa tahu harus ke mana ia mencari perlindungan. Ia tidak dapat menuntut secara hukum di Pengadilan Agama, sebab tidak memiliki surat bukti pernikahan. Karena itu, demi kebaikan (mashlahah) bersama, terutama kaum perempuan, tradisi nikah sirri—dengan dua pengertian di atas—yang biasa dilakukan di tengah masyarakat tidak sejalan dengan tuntunan pernikahan menurut agama sebab berpotensi menimbulkan banyak mafsadah (dampak negatif), terutama bagi perempuan. Demikian jawaban kami, semoga dapat dipahami dan direnungkan.  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-213056630653106394?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/213056630653106394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=213056630653106394&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/213056630653106394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/213056630653106394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/kawin-sirri.html' title='Kawin Sirri'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZovbIjdhAI/AAAAAAAAABI/qSXh0Y1BYsE/s72-c/Perempuan+Bali.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-412562824156540014</id><published>2007-01-02T00:33:00.000-08:00</published><updated>2007-01-02T00:34:32.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Aku Ingin Mencintaimu Selamanya…….</title><content type='html'>&lt;span style="color:#cc9933;"&gt;Aku ingin mencintaimu selamanya,&lt;br /&gt;Di rumah ini,&lt;br /&gt;Dihatimu,&lt;br /&gt;Dijiwamu…&lt;br /&gt;Dan dirumah tangga ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu selamanya,&lt;br /&gt;Dengan anak-anak  kita berlarian di seputar rumah,&lt;br /&gt;di sekeliling hati kita,&lt;br /&gt;dan di sekujur ion tubuh kita…&lt;br /&gt;Dimana hanya ada aku, kamu dan malaikat2 kecil kita itu…,&lt;br /&gt;Calulla dan Khalilla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu selamanya…&lt;br /&gt;Dengan kejujuran dan keiklasan&lt;br /&gt;Untuk saling menemani dalam suka dan duka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu..&lt;br /&gt;Dengan segenap cinta dan air mata&lt;br /&gt;Karena aku tlah terlanjur berjanji pada sang Khalik,&lt;br /&gt;Bahwa aku kan setia padamu,&lt;br /&gt;Mengabdi padamu, dan&lt;br /&gt;Membahagiakanmu selamanya&lt;br /&gt;Diatas apun juga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu selamanya&lt;br /&gt;Karena jalan hidup kita tlah menggariskan bahwa kau adalah&lt;br /&gt;titipan-Nya untukku&lt;br /&gt;yang harus ku bahagiakan selamanya,&lt;br /&gt;kujaga, dan kucintai tanpa syarat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu selamanya…&lt;br /&gt;Namun ku jujur padamu bahwa aku takkan mampu mencintaimu&lt;br /&gt;apabila tlah ada bunga lain dihatimu,&lt;br /&gt;Sekecil apapun…&lt;br /&gt;Maafkan aku ya Allah…&lt;br /&gt;Aku belum mampu meraih surgamu dengan jalan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Erry Tri Merryta Riyadi&lt;br /&gt;(MUC’s legal counsel room,4 Desember 2006,10:04)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-412562824156540014?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/412562824156540014/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=412562824156540014&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/412562824156540014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/412562824156540014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/aku-ingin-mencintaimu-selamanya.html' title='Aku Ingin Mencintaimu Selamanya…….'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-455078695204916589</id><published>2007-01-02T00:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:23.481-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Perempuan'/><title type='text'>Kekerasan Dalam Rumah Tangga</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZoYE4jdg_I/AAAAAAAAAA8/dOb1FCwU-NI/s1600-h/Ibu&amp;+2+anak+menangis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5015347607210132466" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZoYE4jdg_I/AAAAAAAAAA8/dOb1FCwU-NI/s320/Ibu%26+2+anak+menangis.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Hmmmmh….rasanya tak ada habis- habisnya cerita tentang kekerasan terhadap anak dan perempuan terjadi di Indonesia, kadang saking hopeless-nya saya suka wondering…apakah akan ada masa dimana masalah- masalah seperti kejadian yang dipaparkan dalam artikel dibawah ini akan berakhir?&lt;br /&gt;Artkel dibawah saya ambil dari sebuah situs, jujur saja saat membaca ini saya kontan merinding, sedih mengingat perempuan masih diperlakukan sedemikian buruknya. Cita- cita saya cuma ingin perempuan- perempuan ini mendapatkan bantuan sebagaimana mestinya dan ingin sekali memberikan perlindungan kepada mereka agar mereka bisa hidup tenang dan anak- anak mereka tetap hidup normal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Dengan munculnya beberapa lembaga non pemerintah yang jug turut memperhatikan masalah ini, harusnya masalah ini dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Pemerintah memiliki andil untuk mensosialisasikan adanya UU KDRT ini, karena masih banyak perempuan dan anak- anak yang masih belum berani melawan atas kekerasan yang menimpa mereka karena belum tau harus melakukan apa dan kemana harus meminta perlindungan. Ini adalah salah satu tugas berat kita untuk saling melindungi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yeni dan Warsi Simpan Kekerasan Suami sebagai Rahasia Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh Heppy Ratna Sari&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sudah 17 tahun Yeni berumah tangga, asam garam pernikahan telah ia rasakan. Namun di penghujung tahun 2006 ini ia tidak bisa lagi hidup berdampingan bersama keluarganya. Tahun ini adalah tahun terberat dalam pernikahannya, ibu empat anak ini harus menelan pahit karena berulang kali dianiaya dan dihina oleh suaminya. Sambil menujukkan bekas luka di bagian mata kirinya akibat dilempar benda keras, Yeni mengatakan tidak tahu menahu penyebab hingga suaminya sering memukulnya. "Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan suami saya, tiba-tiba saja dia sering memukul dan menghina saya, memecahkan barang-barang dan melampiaskan kemarahannya pada anak-anak. Entah ada apa, kondisi ekonomi kami baik-baik saja," katanya dengan ekspresi bingung. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Yeni mengaku telah cukup bersabar dan bertahan menghadapi ulah suaminya tersebut. Setiap malam ia hanya bisa berdoa semoga suaminya hari ini tidak memukulnya atau paling tidak ada "keajaiban" sehingga pukulan itu tidak terlalu menyakitkan dan membuatnya mati. Setiap kejadian menyakitkan yang ia terima ia abadikan dalam tulisan. Ia gambarkan semua tindakan kejam suaminya dalam catatan harian. Meski demikian ia tetap bersyukur karena luka itu hanya dideritanya dan bukan anak-anaknya. Bukan harta yang membuatnya bertahan hingga hari ini, tetapi pengabdiannya kepada keluarga. Ia mengatakan kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anak-anak mereka tumbuh sehat, ceria dan mampu meraih cita-cita mereka. "Saya sudah meminta izin pada anak-anak dan mereka menyetujui jika saya bercerai. Saya tahu mereka juga terluka untuk itu saya minta maaf," kata Yeni, yang proses perceraiannya kini sedang berjalan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hal yang sama juga menimpa Warsi, wanita paruh baya yang selalu ramah kepada semua orang ini ternyata juga menyimpan trauma terhadap pasangannya. Selama kurang lebih 20 tahun ia hidup bersama pria yang tak segan memukulnya. Sebagai ibu yang tidak bekerja, Warsi menggantungkan hidup pada suami yang juga berpenghasilan pas-pasan. "Saat tidur, saya selalu menyembunyikan botol di bawah bantal, kalau-kalau dia membekap saya maka saya bisa langsung memukulnya. Dia selalu memukul terang-terangan di depan anak-anak dalam keadaan mabuk. Bahkan tak jarang, jika anak-anak di rumah mereka membantu memukul suami saya dan menolong saya. Mereka adalah anak-anak yang berani," kata Warsi dengan senyum yang dipaksakan. Kini ia hanya bisa menyimpan traumanya sendiri, tetap tersenyum dan ceria meski masih menyimpan kekecewaan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Enggan Melapor&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Meski telah menerima tindak kekerasan dari orang terdekat mereka, kedua ibu ini enggan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Berbagai alasan menghambat mereka untuk bertindak tegas salah satunya adalah tidak ingin memperpanjang masalah. Bagi mereka, memperpanjang masalah sama dengan lebih menyakiti anak-anak dan menyebarluaskan aib mereka pada masyarakat. "Saya tidak ingin masalah ini menjadi besar dengan melaporkannya ke polisi atau dengan visum. Kalau suami dipanggil maka masalahnya akan semakin panjang dan saya tidak mau itu. Lebih baik meminta cerai langsung tanpa harus bertemu lagi dengan dia," kata Yeni. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Meski ia mengaku telah mendapatkan dukungan dari warga sekitar tempat ia tinggal untuk melapor, namun Yeni tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Menurutnya, akan lebih menyakitakn jika ayah anak-anak dipenjara, maka demi menjaga perasaan putra-putrinya ia memilih untuk menyimpannya sendiri dan bertahan. Begitu pula dengan Warsi, ia tidak bisa melaporkan suaminya karena jika si suami dipenjara maka masa depan anak-anaknya akan tidak memiliki kepastian. Anak-anak, katanya masih membutuhkan ayah mereka karena sebagian besar kebutuhan keluarga dipenuhi oleh suami. "Jika dia ditangkap lalu bagaimana dengan anak-anak, siapa yang akan membiayai hidup mereka. Maka saya harus bertahan hingga anak-anak cukup besar dan mampu membiayai hidup mereka sendiri. Setelah itu saya bercerai," katanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mereka juga "tak mampu" melaporkan kasus mereka pada lembaga-lembaga non pemerintah yang ada karena pertimbangan-pertimbangan tersebut. Meski mereka sadar yang dilakukan suami mereka adalah tindak kejahatan dan dapat dikenai sanksi hukum, kedua ibu itu memilih diam dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia mengatakan setiap wanita memiliki hak pembelaan terhadap dirinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat dicegah begitu saja karena terkait dengan pemahaman setiap orang terhadap penghargaan terhadap sesama. "Seharusnya kaum pria harus bisa menghargai wanita terlebih lagi setelah berumah tangga. Tetapi buktinya `penghargaan` itu masih belum sepenuhnya ada. Wanita telah diidentikkan sebagai kaum lemah," katanya. Jika penghargaan itu ada dan terpelihara maka kejadian kekerasan dalam rumah tangga dapat dihindari.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Bantuan Hukum&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebagai seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan utama dan menggantungkan hidup pada suami, mereka tidak memiliki keberanian untuk dengan cepat memutuskan ikatan rumah tangga akibat kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi. Ada ketakutan soal hidup mereka setelah lepas dari suami, apakah akan segera mendapat pekerjaan, sedangkan usia mereka kurang produktif untuk bekerja. Namun ketakutan itu tidak lagi dihiraukan seiring dengan makin menipisnya kesabaran. Setelah berhasil memantapkan hati untuk lepas dari kekerasan suami, mereka masih harus terlibat masalah baru. "Saya hanya ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan tidak memiliki tabungan pribadi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ketika saya telah mantap bercerai, masalah yang harus dihadapi tidak kalah rumit yaitu biaya jasa pengacara," kata Yeni. Menurutnya ia telah meminta bantuan sejumlah pengacara, namun mereka mematok harga yang tinggi sehingga Yeni terpaksa mengurungkan niatnya. Untuk itu ia mendatangi sebuah Lembaga Bantuan Hukum untuk berkonsultasi dan meminta bantuan keringanan biaya pengacara. Ia tidak berharap banyak akan ada bantuan dari pemerintah maupun dari lembaga, ia hanya berharap ada sedikit "belas kasihan" dari para penegak hukum untuk meringankan bebannya. "Saya tahu pemerintah juga banyak masalah yang harus dibereskan, apalah artinya saya dibandingkan dengan masalah negara. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan mau mengulurkan tangannya melalui tangan yang lain sehingga beban ini terasa lebih ringan," ujar Yeni. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kini makin banyak lembaga non pemerintah yang bergerak dalam perjuangan hak asasi manusia terutama perempuan. Keberadaan mereka adalah untuk memperjuangkan hak wanita yang tertindas. Namun keberadaan lembaga ini dan undang-undang no 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih belum cukup untuk menghentikan kekerasan terhadap wanita. Dalam undang-undang itu disebutkan pelaku kekerasan fisik dikenakan pidana penjara 5-15 tahun atau denda Rp15-Rp45 juta. Pelaku kekerasan psikis dikenakan pidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp9 juta. Sedangkan pelaku kekerasan seksual dipidana penjara paling lama 20 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta dan untuk pelaku penelantaran rumah tangga dipidana penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak Rp15 juta. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Yeni dan Warsi adalah dua contoh nyata soal kekerasan dalam rumah tangga yang masih terus terjadi, menjelang peringatan Hari Ibu. Walaupun melewati cara berbeda; Warsi menjalani proses cerai tanpa dampingan pihak lain dan Yeni melalui pendampingan LBH, mereka sama-sama lebih memilih menyimpan kenyataan pahit yang mereka jalani sebagai rahasia keluarga.Bagi berbagai kalangan, sikap dua perempuan itu merupakan cermin belum tersosialisasikannya Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.Bagi aktivis Rita Serena Kalibonso, saat ini masyarakat masih menganggap masalah KDRT masih merupakan aib bagi keluarga mereka sehingga tidak perlu dibawa ke wilayah publik. Padahal, kata dia, filosofis dari UU PKDRT itu adalah untuk mengoreksi cara pandang masyarakat itu yakni ketika dia menjadi korban KDRT, dirinya akan mendapatkan berbagai macam perlindungan hukum mulai dari pelaporan, pendampingan oleh konselor hingga ke tahap pengadilan serta perlindungan bila amanat UU PKDRT itu betul-betul dilaksanakan.(*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-455078695204916589?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/455078695204916589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=455078695204916589&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/455078695204916589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/455078695204916589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/kekerasan-dalam-rumah-tangga.html' title='Kekerasan Dalam Rumah Tangga'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZoYE4jdg_I/AAAAAAAAAA8/dOb1FCwU-NI/s72-c/Ibu%26+2+anak+menangis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-5109178802008288138</id><published>2007-01-01T23:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:35.494-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Perempuan'/><title type='text'>Menguak Sisi Gelap Poligami</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZoLIYjdg-I/AAAAAAAAAAw/FgdbM8ylDGM/s1600-h/poligami.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5015333373688513506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZoLIYjdg-I/AAAAAAAAAAw/FgdbM8ylDGM/s320/poligami.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan artikel berikutnya yang membahas tentang poligami, diharapkan dapat memberikan gambaran kepada pembaca mengenai alasan para perempuan bergerak untuk menggugat adanya poligami. Saya ambil artikel ini hari hukumonline yang gak kalah seru memberikan pemaparan tentang sisi gelap pelaksanaan poligami oleh manusia biasa seperti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca, semoga get new idea setelah membaca ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Menguak Sisi Gelap Poligami&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada beragam modus poligami. Yang jelas dampaknya selalu menimpa perempuan dan anak-anak.&lt;br /&gt;Di penghujung acara komedi yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta, Senin malam (11/12), pelawak Kiwil dengan penuh percaya dirinya berucap: “Pelaku poligami itu orang-orang pilihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiwil jelas keliru. Praktik poligami bukan monopoli tokoh tersoroh seperti Abdullah Gymnastiar, Hamzah Haz, Rhoma Irama maupun Soekarno. Poligami justru kerap dilakukan segala kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang penting perilaku mereka ternyata acapkali melanggar hukum. Hal itu bisa disimak dari data Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (&lt;a href="http://www.lbh-apik.or.id/index.htm"&gt;LBH-APIK&lt;/a&gt;). Berdasarkan laporan LBH-APIK tahun 2003, modus pelaku poligami cukup beragam, namun hampir seluruhnya tak mengindahkan peraturan perundangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Modus Pelaku Poligami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menikah di bawah tangan------ 21&lt;br /&gt;Pemalsuan identitas di KUA------ 19&lt;br /&gt;Nikah tanpa ijin istri pertama-----4&lt;br /&gt;Memaksa mendapatkan ijin-----1&lt;br /&gt;Tidak diketahui modus-----3&lt;br /&gt;(Sumber: LBH-APIK Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat berpoligami tercantum dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan khusus buat Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus juga mempertimbangkan PP No. 45 Tahun 1990 tentang Revisi PP No. 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS.&lt;br /&gt;PAsal 4 ayat (1) UU Perkawinan menyebutkan, seorang suami yang hendak beristri lebih dari satu wajib rnengajukan permohonan kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya. Namun pengadilan belum tentu mengabulkan permohonan itu. Ayat (2) pasal yang sama mencantumkan tiga syarat yang harus dipenuhi: istri tidak bisa menjalankan kewajibannya, mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan, atau sang isteri tidak dapat melahirkan keturunan.&lt;br /&gt;Tiga syarat itu masih tak cukup. Pasal 5 ayat (1) menambahkan suami yang hendak berpoligami harus memperoleh persetujuan dari isteri pertamanya. Dia juga harus mampu menjamin keperluan hidup para istri dan anaknya. Dan, yang terpenting, dia harus berlaku adil terhadap para istri dan anaknya.&lt;br /&gt;Mengenai keadilan ini, PP No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan UU No. 1/1974 berusaha menjabarkan keadilan macam apa yang diemban oleh suami yang hendak berpoligami. Pasal 41 huruf c PP tersebut menyatakan, jika seorang suami mengajukan permohonan poligami pengadilan memeriksa penghasilan suami. Hal ini dibuktikan dengan yang surat keterangan yang ditandatangani oleh bendahara tempat sang suami bekerja atau surat keterangan pajak penghasilan, atau surat lain yang dapat diterima pengadilan. Hanya, pemeriksaan itu ujung-ujungnya dimaksudkan semata-mata untuk menelaah keadilan yang bersifat material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menakar Keadilan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Siti Musdah Mulya, Dosen &lt;a href="http://www.uinjkt.ac.id/"&gt;UIN Jakarta&lt;/a&gt;, sepenuhnya tidak yakin kalau suami bisa berbuat adil kepada istri dan anak-anaknya. Dia mendasarkan argumennya pada Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat 3. Di situ ada kata “al-Qisht” dan “al-‘Adl” yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya sama-sama “keadilan”. Kesalahan dalam menerjemahkan dan menafsirkan dua kata itu berimbas sangat fatal dalam memahami poligami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “al-Qisht”, kata Musdah, berarti keadilan yang bersifat materi (kuantitatif), sedangkan “al-‘Adl” adalah keadilan yang bersifat immateri (kualitatif). “Dalam hal poligami, yang dipakai itu al-adl, bukan al-qisht. Jadi poligami itu harus adil secara immateri. Ini sangat sulit. Bahkan siapapun, kecuali nabi, tidak akan bisa mewujudkannya,” tegas Musdah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rifyal Ka’bah punya argumen yang berseberangan dengan Musdah. Menurut hakim agung MA ini, seberapa adilnya seseorang itu bisa diketahui. “Yang mengetahui ya pengadilan,” ujar Rifyal. Ditambahkannya, keadilan memang bersifat material dan immaterial. Namun demikian, hakim dengan hati nuraninya bisa mengetahui seberapa adil seseorang. “Pepatah lama mengatakan, hakim itu kan wakil tuhan di muka bumi ini,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari beda pendapat mengenai keadilan dalam berpoligami, yang jelas, Pasal 31 (3) UU Perkawinan menyebutkan suami adalah kepala keluarga. Kebutuhan yang harus dipenuhi seorang suami terhadap para istri dan anaknya sungguh tidak ringan. Kebutuhan pangan (nafaqah), sandang (kiswah) dan papan (suknah) adalah yang bersifat materi. Yang immateri jauh lebih berat karena sulit dilacak parameternya. Karena itulah, suami yang ingin berpoligami cenderung mengambil jalan pintas tanpa mengindahkan peraturan perundangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dampaknya Menimpa Istri dan Anak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11 Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan menyebutkan, kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat –atau mungkin berakibat—kesengsaraan atau penderitaan perempuan baik secara fisik, seksual atau psikologis. Termasuk ancaman dan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada definisi tersebut, Dewita Hayu Shinta, aktivis LBH-APIK Jakarta, secara tegas menyatakan poligami adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan itu cukup beragam, dari yang tidak kentara sampai yang vulgar. Bagi Dewi “Kalau istri terpaksa memberi ijin kepada suami untuk menikah, itu saja sudah dinamakan kekerasan terhadap perempuan.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dampak poligami terhadap istri pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak diberi nafkah---------37&lt;br /&gt;Tekanan psikis--------21&lt;br /&gt;Penganiayaan fisik---------7&lt;br /&gt;Diceraikan oleh suami--------6&lt;br /&gt;Ditelantarkan suami--------23&lt;br /&gt;Pisah ranjang----------11&lt;br /&gt;Mendapat teror dari istri kedua--------2&lt;br /&gt;(Sumber: LBH-APIK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana dampak poligami terhadap istri kedua, ketiga, dan seterusnya? Kekerasan terhadap mereka juga bisa terjadi sewaktu-waktu. Tak ada jaminan mereka akan selalu bernasib lebih baik dari istri pertama. Apalagi, bila pernikahan terhadap istri kedua itu dilakukan di bawah tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan di bawah tangan adalah menikah menurut ajaran agama (Islam) atau hukum adat, dan tidak merujuk pada hukum positif. Alhasil pernikahan itu tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Kantor Catatan Sipil (KCS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami seperti ini tidak menggunakan perjanjian yang kuat (mitsaqon ghalidho) karena tidak tercatat secara hukum. Apabila ditinggalkan oleh suami, istri tidak bisa menggugat suami. Kalaupun ingin menggugat cerai, penyelesaiannya diserahkan kepada pemimpin agama.&lt;br /&gt;Persoalannya makin rumit kalau sampai pasangan poligami itu punya anak. Status anak mereka tidak jelas, karena untuk memperoleh kejelasan status, dibutuhkan data semacam akta kelahiran. Padahal, untuk memperoleh akta kelahiran, disyaratkan adanya akta nikah. Hal ini berimbas pada pembagian harta warisan, dimana sang anak akan kesulitan mendapatkan hak warisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, istri tidak memperoleh tunjangan apabila suami meninggal, semisal asuransi. Dan, apabila suami sebagai pegawai, maka istri tidak memperoleh tunjangan perkawinan dan tunjangan pensiun suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dewi Novirianti, aktivis &lt;a href="http://www.justiceforthepoor.or.id/"&gt;Justice for the Poor&lt;/a&gt;, hal ini acap kali terjadi di pelosok tanah air. “Di Brebes, Cianjur, dan Lombok, praktik seperti ini sudah lazim. Yang kami usahakan adalah bagaimana sang anak dapat memperoleh hak-haknya,” papar Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Soetono, rekan Dewi, menambahkan, salah satu upaya terbaik adalah mengusahakan sang anak memperoleh akta kelahirannya berdasarkan garis keturuan dari sang ibu. “Di Brebes bahkan sudah ada Perda yang secara khusus mengatur hal-hal seperti ini,” tandas Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Akibatkan Perceraian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Asumsi bahwa poligami lebih berpotensi mendatangkan kehancuran rumah tangga, tampaknya sulit didebat. Karena itu, pengadilan agama terkesan cukup hati-hati dalam mengabulkan permohonan izin poligami. Tahun 2005, tercatat ada 989 permohonan izin poligami yang diajukan di pengadilan agama di seluruh Indonesia. Tak semua pengajuan itu dikabulkan. Ada 803 permohonan izin poligami yang dikabulkan. Berarti 186 lainnya ditolak. Penolakan itu, menurut Dirjen Peradilan Agama (&lt;a href="http://www.badilag.net/"&gt;Badilag&lt;/a&gt;) Wahyu Widiana, disebabkan adanya persyaratan poligami yang tak terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badilag mencatat, sepanjang tahun 2005 saja perceraian yang disebabkan poligami totalnya ada 879 atau 0,6 persen dari seluruh perkara perceraian di Indonesia. Menariknya, Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Bandung merupakan PTA yang paling sering menangani perceraian yang disebabkan poligami. Di kota kembang ini, tahun 2005, terdapat 324 perkara poligami. PTA Surabaya menempati urutan kedua, jumlahnya 162 atau separuh dari jumlah perkara serupa di Bandung. Menyusul di tempat ke tiga adalah PTA Semarang. Jumlahnya 104 perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka-angka yang berhasil dihimpun Badilag tak bisa disebut bombastis. Dan, tentu saja tidak mengagetkan. Ini karena sebagian besar poligami dilakukan tanpa melalui prosedur baku seperti yang diatur dalam UU Perkawinan. Dalam bahasa lain, dilakukan di bawah tangan. “Poligami versi ini cukup dilakukan di depan pemimpin agama tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada pengadilan agama. Hasil pernikahan itu tak akan tercatat di KUA. Otomatis, Badilag tak punya datanya,” ujar Wahyu Widiana.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-5109178802008288138?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/5109178802008288138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=5109178802008288138&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5109178802008288138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5109178802008288138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2007/01/menguak-sisi-gelap-poligami.html' title='Menguak Sisi Gelap Poligami'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RZoLIYjdg-I/AAAAAAAAAAw/FgdbM8ylDGM/s72-c/poligami.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-2188657066328884935</id><published>2006-12-22T16:27:00.000-08:00</published><updated>2006-12-22T01:37:54.074-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Seputar Perempuan'/><title type='text'>Poligami</title><content type='html'>Mmmmm...mumpung masih hangat- hangatnya issue poligami dan juga kebetulan hari ini sahabat- sahabat dari elemen pembela hak perempuan sedang berkumpul di Gedung Perwari Menteng untuk melakukan deklarasi Anti Poligami dalam rangka memperingati Hari Ibu, maka engga ada salahnya disini saya tempelkan salah satu tulisan dari LBH APIK yang memuat alasan mengapa kami kaum perempuan menolak praktik poligami, mungkin bisa jadi bahan renungan untuk kita semua....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Poligami sebagai Bentuk Kekerasan yang Paling Nyata atas Harkat dan Martabat Perempuan sebagai Manusia di dalam Hukum,Sosial Budaya dan Agama&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Akhir-akhir ini marak pemberitaan seputar pemberian anugrah “Poligami Award” terhadap para suami yang dinilai “sukses” berpoligami. Wacana yang dikembangkan adalah adanya dikotomi poligami yang baik dan benar atau sesuai dengan 'ajaran' Islam dan sebaliknya  poligami yang tidak baik atau tidak murni sesuai syariat. Wacana ini disatu sisi hanya mengekspos bagaimana poligami dilakukan oleh mereka yang berpoligami, tanpa sama sekali mempertimbangkan perspektif perempuan sebagai korban poligami. Disisi lain dikotomisasi baik-buruk, benar-salah dalam berpoligami mengaburkan masalah mendasar dari institusi poligami itu sendiri sebagai praktek diskriminasi dan kekerasan terhadap salah satu kelompok atas dasar perbedaan jenis kelaminnya.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fakta di seputar poligami menunjukkan banyaknya penderitaan yang timbul akibat poligami. Penderitaan tersebut dialami baik terhadap istri pertama juga istri yang lainnya serta anak-anak mereka. Dari 58 kasus poligami yang didampingi LBH-APIK selama kurun 2001 sampai Juli 2003 memperlihatkan bentuk-bentuk kekerasan terhadap istri-istri dan anak-anak mereka, mulai dari tekanan psikis, penganiayaan fisik, penelantaran istri dan anak-anak, ancaman dan teror serta pengabaian hak seksual istri. Sementara banyak poligami dilakukan tanpa alasan yang jelas (35 kasus). Sedangkan dari pemberitaan yang ada, poligami mendorong tingginya tingkat perceraian yang diajukan istri (gugat cerai) (Warta Kota, 12/4/03). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Praktek poligami sendiri pada hakekatnya merupakan satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Pasal 1 CEDAW yang diratifikasi melalui UU No. 7 Tahun 1984 telah dengan tegas menyebutkan, diskriminasi terhadap perempuan berarti setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasam pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan. &lt;br /&gt;Sebagai negara yang telah melakukan ratifikasi CEDAW (The Convention on The Elimination of Discrimination Againts Women), Indonesia wajib memberikan perlindungan bagi perempuan dari berbagai bentuk diskriminasi, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun negara. Dalam kasus poligami sebagai bentuk diskriminasi dan suatu bentuk kekerasan terhadap perempuan ini, negara tidak saja mendorong untuk mengahpuskannya,  tapi justru mengukuhkan institusi poligami tersebut lewat aturan perundangan yang ada.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Disisi lain, Dengan mengakomodir praktek poligami lewat UUP ini pada hakekatnya negara telah mengedepankan wacana tafsir agama yang dominan dari kelompok-kelompok agama tertentu. &lt;br /&gt;Dalam Pasal 3, 4 dan 5 UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, pada pokoknya menyebutkan bahwa seorang suami boleh beristri lebih dengan izin Pengadilan. Izin ini dikeluarkan bila  istri yang bersangkutan sakit dan tidak dapat melayani suami, tidak dapat memiliki keturunan atau tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai istri karena alasan lain. Dalam berpoligami juga di haruskan adanya persetujuan istri/istri-istri. Namun persetujuan istri ini tidak diperlukan bila mereka tidak mungkin di mintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau karena sebab-sebab lain.&lt;br /&gt;Pernyataan pasal tersebut mencerminkan bahwa Perkawinan semata-mata ditujukan untuk memenuhi kepentingan biologis dan kepentingan mendapatkan ahli waris/keturunan dari salah satu jenis kelamin, dan diiringi dengan asumsi bahwa salah satu pihak tersebut  selalu siap sedia atau tidak akan pernah bermasalah dengan kemampuan fisik/biologisnya  Ketentuan ini telah menempatkan perempuan sebagai “sex provider” dan secara keseluruhan mencerminkan ideologi ‘phallosentris’ , yakni sistem nilai – melalui ketentuan ini dilegitimasi- yang berpusat pada kepentingan/kebutuhan sang phallus (penis).   &lt;br /&gt;Kami mencatat ada beberapa alasan mendasar lainnya perlunya penghapusan terhadap praktek poligami: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Poligami merupakan bentuk penampakan konstruksi kuasa laki-laki yang superior dengan nafsu menguasai perempuan, disisi lain faktor biologis/seksual juga mempengaruhi bahkan demi prestise tertentu. Namun yang nampak dari kesemuanya itu bahwa poligami telah menambah beban kesengsaraan perempuan terhadap sekian banyak beban yang sudah ada, dan jika itu kenyataannya maka poligami adalah konsep penindasan terhadap perempuan yang tidak berpihak kepada rasa kemanusiaan dan keadilan.   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Selain itu   Poligami juga merupakan bentuk subordinasi dan diskriminasi terhadap perempuan, hal  mana di dasarkan pada keunggulan/superioritas jenis kelamin tertentu atas jenis kelamin lainnya;  Pengakuan yang absah terhadap hirarki jenis kelamin dan pengutamaan privilis seksual mereka atas yang lainnya; Ketentuan ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip persamaan, anti diskriminasi serta anti kekerasan yang dianut dalam berbagai Instrumen Hukum yang ada. (UUD 1945, UU HAM, UU No.1/84, GBHN 1999, Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan);   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Realitasnya banyak kasus poligami yang memicu bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) lainnya  yang dialami perempuan dan anak-anak, meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual dan ekonomi; Poligami sendiri merupakan bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang dilegitimasi oleh hukum dan sistim kepercayaan yang ada di masyarakat;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Adanya fakta bahwa sejumlah perempuan menerima poligami tidak menghilangkan hakekat diskriminasi seksual dalam institusi poligami tersebut; dan Penerimaan mereka terhadap poligami adalah bentuk ‘internalized oppression’ , yang mana sepanjang hidupnya perempuan telah disosialisasikan pada sistem nilai yang diskriminatif.   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi rentannya posisi perempuan di masyarakat dan negara, maka sosialisasi mengenai perlindungan bagi perempuan dari segala bentuk diskriminasi, khususnya poligami masih harus dilakukan secara terus menerus. Untuk itu dalam rangka memperingati Hari Ratifikasi CEDAW, 24 Juli 2003, LBH APIK Jakarta, sebagai lembaga yang mendorong penghapusan kekerasan terhadap perempuan merasa perlu memberikan pandangannya kepada publik mengenai poligami dan diskriminasi terhadap perempuan, berdasarkan pengalaman yang didapat selama mendamping perempuan korban kekerasan dan ketidakadilan. Serta mendorong terwujudnya perundang-undangan yang memberikan perlindungan perempuan dari praktek poligami.&lt;br /&gt;Untuk itu, kami menyerukan kepada semua pihak, khususnya pada pembuat kebijakan:&lt;br /&gt;Agar segera membuat langkah-langkah kongkret untuk menghapuskan setiap bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan, khususnya di bidang perkawinan dengan mengurangi praktek poligami di masyarakat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mempercepat amandemen Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974&lt;br /&gt;Mengkritisi setiap tafsir ajaran agama yang diskriminatif terhadap perempuan dan sebaliknya perlu segera di sebarkan penafsiran ajaran agama yang lebih setara dan adil gender.&lt;br /&gt;Menjadikan UU No. 7 Tahun 1984  sebagai acuan dalam penyusunan setiap kebijakan maupun dalam menyelesaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan kehidupan kemasyarakatan, khususnya yang mengenai perempuan.&lt;br /&gt;Menciptakan masyarakat yang bebas poligami dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya terhadap perempuan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Disampaikan dalam acara Konfersi Pers LBH APIK Jakarta, Kamis 24 Juli 2003 di Hotel IBIS Thamarin Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-2188657066328884935?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/2188657066328884935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=2188657066328884935&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/2188657066328884935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/2188657066328884935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/poligami.html' title='Poligami'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-5986385892275390654</id><published>2006-12-22T01:39:00.000-08:00</published><updated>2006-12-22T01:41:48.614-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kemerdekaan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.kompas.co.id/wanita/news/0611/20/140744.htm"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc9933;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ff9900;"&gt;“…&lt;em&gt;Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya sudah akan patah di tengah jalan; saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka dan saya turut membantu meretas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan perempuan Bumiputra&lt;/em&gt;.” (Surat Kartini, Jepara, 7-10-1900)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya malu hati bila membaca penggalan surat RA Kartini diatas, beliau adalah wanita zaman dulu yang hidup dalam kondisi yang memiliki keterbatasan ruang gerak, pendidikan, informasi dan teknologi, namun beliau sudah memiliki tekat yang luar biasa untuk berjuang demi kemerdekaan  kaum perempuan.&lt;br /&gt;Sementara beberapa perempuan- perempuan  era sekarang yang jauh lebih beruntung karena memiliki ruang gerak yg lebih luas, berkesempatan mengenyam pendidikan yang tinggi, akses informasi yang mudah serta memiliki kemapanan teknologi, masih saja santai bahkan seolah kurang peduli dengan kepentingan kemerdekaan kaumnya, bahkan kemerdekaan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Saya engga habis fikir dengan sekumpulan perempuan era sekarang yang kebanyakan membunuh kemerdekaannya sendiri. Bayangkan banyak kaum istri yang tidak berdaya untuk bersikap meskipun dihadapan suaminya, bahkan untuk sebagian wanita “mata duitan”, merasa tidak perduli akan kemerdekaannya sendiri, mereka menjadi budak materi dan ujung-ujungnya sama saja yakni memenjarakan nurani dan kemerdekaan hatinya. Dan kebodohan beberapa kaum perempuan ini, mereka diperbudak oleh brand- brand tertentu, mereka berkumpul beramai- ramai saling menunjukan keloyalitasan mereka terhadap benda mati, kebanyakan benda mati yang mereka tuhankan adalah benda bernama belian sekian karat…, tas brand***, sepatu brand ***,mobil kluaran *** dan lainnya, demi keloyalitasan ini mereka rela untuk menjadi buta dan tuli untuk tau dari mana sang suami menyediakan dana untuk hobby istrinya menuhankan benda- benda mati  itu. Inilah gambaran perempuan -perempuan kapitalis konsumtif yang tanpa sadar telah membunuh kemerdekaannya sendiri.&lt;br /&gt;Dan ada yang juga sama parahnya, ada sekelumit perempuanyang tidak segan- segan menyakiti perempuan lain dengan cara merebut dan menghancurkan kebahagiaan rumah tangga perempuan lain hanya karena alasan materi, “ah…yang penting suami dia suka sama saya, siapa suruh suka sama saya, kalo saya sih cuma suka uangnya dia aja”, ujar seorang perempuan simpanan pejabat, di sebuah tayangan televisi. Dan disitulah kita bisa menilai kalau nurani perempuan itu sudah mati teracuni oleh penjara materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pula tingkah polah kaum perempuan era sekarang yang seolah bangga dengan kemerdekaannya terenggut,&lt;br /&gt;“saya iklas suami saya menikah lagi ini wujud bakti saya padanya,karena saya pun yakin beliau mampu menafkahi kami”, ujar perempuan yang baru saja dimadu suaminya.&lt;br /&gt;Dalam hati saya berpikir, bagaimana mungkin wanita ini rela diinjak-injak haknya demi mengabdi pada suaminya. Dan menurutnya masalah selesai hanya karena hidupnya tetap dinafkahi suaminya. Mestikah kaum wanita mengabdi pada suaminya sampai harus membunuh nuraninya sendiri? Saya rasa itu adalah salah satu bentuk penindasan, penindasan apapun yang dilakukan suami merupakan perenggutan kemerdekaan.Saya menyebut perempuan semacam ini adalah kaum pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita juga sering melihat banyaknya perempuan yang menjadi objek pornografi dan pornoaksi, beberapa perempuan rela menanggalkan pakaian dan kehormatan mereka hanya karena terikat kontrak dan tertantang oleh tawaran kemasyuran. Perempuan- perempuan ini mungkin tidak sadar bahwa mereka tidak mampu mempertahankan kehormatan mereka.Sungguh sudah kehilangan akal sehat…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma sekelumit perempuan yang konsumtif kapitalis, perempuan pasrah dan golongan perempuan yang kehilangan akal sehat lainnya saja yang membuat perjauangan RA Kartini menjadi menguap begitu , permerintah pun kerap kali menempatkan perempuan dalam kasta ke dua dalam masyarakat, contoh saja dalam hal untuk beberapa urusan di Bank saja perempuan harus meminta persetujuan suami, lalu apakah menurut pemerintah kaum perempuan itu tidak cakap dimata hukum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi lengahnya pemerintah menyikapi praktik penjualan perempuan, seolah pemerintah tutup mata melihat kenyataan ini. Dimana perempuan- perempuan Indonesia dijadikan objek pemuas nafsu di negara orang, dan perempuan Indonesia teraniyaya serta terzalimi  di negara orang. Belum lagi nasib para TKI yang kebanyakan kaum perempuan, dan keselamatan mereka pun sangat terancam disana. Rasanya perjuangan RA Kartini hancur berkeping- keeping  kalau sudah begini. Mungkin inilah yang bisa saya sebut sebagai penjajahan terhadap perempuan di era modern.&lt;br /&gt;Ini adalah pr untuk kaum perempuan sendiri untuk terus memperbaiki diri dan menuntut hak kita. Karena dari rahim dan perjuangan kita lah Allah menitipkan masa depan bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUC Legal Councel’s Room, 14 Dec 2006, 17.32&lt;br /&gt;Erry Tri Merryta Riyadi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-5986385892275390654?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/5986385892275390654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=5986385892275390654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5986385892275390654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5986385892275390654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/kemerdekaan-perempuan.html' title='Kemerdekaan Perempuan'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-5859324825789237135</id><published>2006-12-21T21:21:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T21:22:46.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kaulah Orangnya</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waktu kau bilang kau suka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku terpana tak kuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanku tak suka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh ‘ku tak kira&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasratku berkata tidak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi firasatku bilang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kau lah orangnya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang menunjukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hadir disini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah malaikat mana pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membujukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bilang “Iya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ‘ku anggukkan kepala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda setuju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangun mimpimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau hasratku tetap menolakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah berkali- kali musim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lewati,&lt;br /&gt;ternyata kau masih disini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang hasrat dan hatiku telah sepkati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa “Kau lah orangnya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erry Tri Merryta&lt;br /&gt;21 October 2003&lt;br /&gt;(tulisan yang terinspirasi oleh seorang Mochamad Taufik “Tori” Riyadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-5859324825789237135?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/5859324825789237135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=5859324825789237135&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5859324825789237135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5859324825789237135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/kaulah-orangnya.html' title='Kaulah Orangnya'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-5615441670759952947</id><published>2006-12-21T21:20:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T21:21:44.573-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Pelangi di Peron 9</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 9, tempatku biasa terpaku belakangan ini menjadi lebih cerah&lt;br /&gt;Hampir tiap pagi ada pelangi melintas&lt;br /&gt;Seolah di tiap lapisnya ada gelimangan bintang kecil keemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pelangi itu bersinar&lt;br /&gt;Aku terpaku dan ter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini pelangi itu belum muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 9 jam 08.30 pagi……….&lt;br /&gt;Tak seperti biasanya,&lt;br /&gt;Masih gelap dan sumpek rasanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 9 jam 08.47 pagi&lt;br /&gt;Tak secercah tanda- tanda kehadiran pelangi ku dan sejumput bintang keemasannya disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 9 jam 08.59 pagi&lt;br /&gt;Mmh… sial, bau pesing mengusik hidungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 9 jam 09.05 pagi&lt;br /&gt;………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 09.47 pagi&lt;br /&gt;Sudah jelas aku sekarang terlambat kuliah,&lt;br /&gt;Dan pelangi berbintang keemasanku tak kunjung muncul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peron 9 jam 09.51 pagi&lt;br /&gt;Tuhan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;br /&gt;Pelangi berbintang keemasanku dirampas orang!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Erry Meryta Riyadi&lt;br /&gt;(MUC, Legal Counsel’s Room, 21 Nov 2006, 16:48)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-5615441670759952947?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/5615441670759952947/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=5615441670759952947&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5615441670759952947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/5615441670759952947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/pelangi-di-peron-9.html' title='Pelangi di Peron 9'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-7544089744813234446</id><published>2006-12-21T21:17:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T21:19:56.012-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Menemani Hujan</title><content type='html'>Ketika pagi hari ini hujan,&lt;br /&gt; aku lebih memilih untuk pergi ke halaman&lt;br /&gt; untuk menikmati percikan air hujan yang menggelitik kaki telanjangku,&lt;br /&gt;Tetesan air hujan yang melepekkan rambut kecoklatanku pun terasa sangat menyejukkan,&lt;br /&gt;Beberapa sambaran halilintar diaatas awan gelap sana membuatku smakin terangsang untuk menari semakin lincah di atas rumput hijau ini.&lt;br /&gt;Beberapa pohon tampak layu dan menrunduk terkena tamaparan air hujan yang makin lama makin lebat,&lt;br /&gt;dan...ahhhh...aku semakin menikmatinya,&lt;br /&gt;peduli setan dengan daun- daun keriput yang merunduk itu,&lt;br /&gt;aku akan tetap menari,&lt;br /&gt;menghentakkan genangan air hujan,&lt;br /&gt;biar semua tergagap melihat kelincahanku bermain hujan,&lt;br /&gt;biar semua berkomentar miring,dasar gadis sinting!!!!!!!!!&lt;br /&gt;Aku adalah aku,&lt;br /&gt;biar hanya aku yang akan menemani hujan...&lt;br /&gt;Karena hujan seindah ini tak&lt;br /&gt;datang tiap hari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erry Merryta Riyadi(MUC, legal Counsel's Room 1 December 2006, 15:05)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-7544089744813234446?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/7544089744813234446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=7544089744813234446&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/7544089744813234446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/7544089744813234446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/menemani-hujan.html' title='Menemani Hujan'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-246374390480270767</id><published>2006-12-21T21:08:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T21:17:08.060-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Calulla</title><content type='html'>Calulla,&lt;br /&gt;Lebih dari  sekedar manis gula- gula,&lt;br /&gt;sosoknya selalu membawa derai tawa,&lt;br /&gt;sarat akan sebuah makna&lt;br /&gt;yang senantiasa disebut bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calulla,&lt;br /&gt;Jauh dari sekedar pijar bintang&lt;br /&gt;tetapi melampaui fantastis -nya sebuah bintang jatuh&lt;br /&gt;yang kaya akan sebuah harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calulla,&lt;br /&gt;Ditiap kesan kerling matanya&lt;br /&gt;menampilkan kilauan&lt;br /&gt;akan sebuah kedamaian&lt;br /&gt;dari sebuah cinta tanpa syarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calulla,&lt;br /&gt;Tiap sentuhannya&lt;br /&gt;seolah meninggalkan kelembutan&lt;br /&gt;selembut cashmere,&lt;br /&gt;secerah satin&lt;br /&gt;dan sepekat beludru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calulla,&lt;br /&gt;Bukan sekedar cita- cita,&lt;br /&gt;harapan,&lt;br /&gt;impian dan&lt;br /&gt;kata- kata cinta,&lt;br /&gt;ku titipkan masa depanku,&lt;br /&gt;hari tuaku dan surgaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erry Tri Merryta Riyadi&lt;br /&gt;Jakarta, 21 December 2006, 14:27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu puisi baru saya, ini adalah salah satu ekspresi kecintaan saya pada putri sematawayang saya, Calulla. Ia begitu special buat saya, ia adalah power supply buat saya, saya begitu beruntung karena Allah menitipkannya pada saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-246374390480270767?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/246374390480270767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=246374390480270767&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/246374390480270767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/246374390480270767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/calulla.html' title='Calulla'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-619768134321412011</id><published>2006-12-21T21:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:35.685-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Saya'/><title type='text'>BUKAN PEREMPUAN BIASA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYtn29Z_z8I/AAAAAAAAAAk/gXHzK0LMK2s/s1600-h/Ibu+bersepeda.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5011213204274008002" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYtn29Z_z8I/AAAAAAAAAAk/gXHzK0LMK2s/s320/Ibu+bersepeda.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;BUKAN PEREMPUAN BIASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu makan harian, belanja bulanan, sekolah anak, ke dokter anak, dateline report, annual meeting bla…bla…bla…&lt;br /&gt;Itu lah “have to do”-nya seorang ibu pekerja zaman sekarang, dimana ritual belanja sudah besanding sejajar dengan ritual annual meeting.&lt;br /&gt;Bukan hal aneh untuk saat ini melihat seorang ibu harus berkejar- kejaran dengan waktu untuk memburu tugas domestic maupun tugas profesionalitasnya, dan waktu seolah bergulir tiada henti. Seolah di tangan para ibu modern itu semua bisa teratasi, dari menu makan harian hingga propinsi, semua sudah dibuktikan jika wanita mampu menggerakannya.&lt;br /&gt;Kadang tak terbayang bagaimana dalam waktu 24 jam semua tugas mampu berjalan dengan 2 tangan, 2 kaki dan satu otak dari seorang manusia berbungkus kelamin perempuan, yang berlomba lari dengan roda kehidupan semraut kota besar, dimana waktu 24 jam terasa begitu singkat seolah membias begitu saja.&lt;br /&gt;Namun bukan hal yang aneh juga ketika kita melihat pada kenyataan ternyata banyak perempuan- perempuan yang ternyata mampu menjalankan semuanya.&lt;br /&gt;Kadang pekerjaan mengatur rumah tangga dianggap hal mudah yang bisa dijadikan pekerjaan sambilan, padahal mengatur rumah tangga adalah pekerjaan yang bisa memakan waktu 24 jam penuh, dan bagi ibu bekerja, kegiatan mengatur rumah tangga harus dipadatkan agar bisa disandingi dengan tanggungjawab kantor, dan mendistribusikan tanggungjawab kepada pembantu ataupun baby sitter adalah jalan keluar yang biasanya dipilih.&lt;br /&gt;Ada hal- hal domestik yang tetap saja tidak mampu didistribusikan, karena bagaimanapun handalnya pembantu rumah tangga maupun baby sitter tidak akan mampu memberi warna cinta dalam rumah tangga. Cinta dan keuletan seorang ibulah yang mampu membangun rumah tangga yang bahagia dan utuh, dimana bukan rahasia lagi bahwa anak-anak yang berkualitas mayoritas dicetak oleh keluarga yang bahagia dan utuh. Karena secara psikologis anak- anak itu tumbuh secara utuh. Jadi peran ibu bukan hal sepele dalam rumah tangga, karena menyangkut asset bangsa yaitu anak- anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam urusan pekerjaan yang bersifat profesionalitas, tak jarang kaum perempuan ternyata lebih unggul. Berdasarkan beberapa riset yang ada menunjukkan bahwa prestasi kerja di perkantoran banyak didominasi oleh kaum perempuan.&lt;br /&gt;Dan tak heran pula ketika di dunia kampus, banyak gelar mahasiswa berprestasi yang dikantongi oleh kaum perempuan, entah karena perempuan lebih rajin dan lebih tertib yang membuat fenomena itu menjadi hal yang lumrah di universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dipaparkan pada majalah Tempo edisi minggu ini (sorry bukan promosi cuma mau kasih sample saja), disana dipaparkan beberapa contoh perempuan Indonesia yang memiliki profesi dan keuletan menjalankan profesi langka dan menantang, yang mungkin selama ini dalam benak semua orang dianggap bahwa profesi itu only for man, tapi kenyataannya perempuan- perempuan mampu mengerjakan semuanya dan mampu mengukir prestasi disana. Dari mulai profesi polisi, bupati, penerbang, sampai buruh panggul, ternyata mampu dikerjakan oleh perempuan.&lt;br /&gt;Tidak ada yang tidak mungkin untuk kaum perempuan untuk saat ini, kita semua punya kemampuan yang sama dengan laki-laki. Banyak institusi pendidikan yang telah fair untuk mengundang kaum perempuan untuk bersaing dengan laki- laki dalam hal pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti kita telah melangkah lebih maju saat ini, kita telah memiliki kesempatan untuk membuktikan kompetensi kaum kita. Jadi kita memiliki argument yang kuat untuk menjungkirbalikkan pandangan “perempuan = dapur, sumur dan kasur” yang selama ini direkam dalam pemikiran masyarakat umum.&lt;br /&gt;Tugas untuk kita semua kedepan adalah terus berjuang untuk keselarasan rumah tangga kita sebagai amanah dari Allah dan senantiasa menggali potensi diri kita untuk membuktikan bahwa “kita bisa”. Dan apapun bidang yang kita geluti buktikan bahwa kita bukan perempuan biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Erry Riyadi, Diantara semraut-nya Jakarta dan dengan semangat menjelang hari ibu, 19 Desember 2006, 11:53) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-619768134321412011?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/619768134321412011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=619768134321412011&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/619768134321412011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/619768134321412011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/bukan-perempuan-biasa.html' title='BUKAN PEREMPUAN BIASA'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYtn29Z_z8I/AAAAAAAAAAk/gXHzK0LMK2s/s72-c/Ibu+bersepeda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-3160160879568926561</id><published>2006-12-21T20:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:59.331-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Saya'/><title type='text'>SELAMAT HARI IBU</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYtnBdZ_z7I/AAAAAAAAAAY/nbgKB9XIb0k/s1600-h/antre.BMP"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5011212285151006642" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYtnBdZ_z7I/AAAAAAAAAAY/nbgKB9XIb0k/s320/antre.BMP" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kompleks bagi kita untuk menjabarkan besarnya arti Ibu dalam kehidupan manusia. Setiap mendengar kata Ibu, maka yang terlintas dalam benak kita adalah sesosok orang penuh kasih, dan bagi sebagian orang berfikiran bahwa Ibu dianggap sebagai ikon kasih sayang, yang sarat akan dekapan kasih, kelembutan dan kedamaian.&lt;br /&gt;Pandangan tentang ibu tidak selesai pada kondisi perempuan yang telah bersuami dan beranak, jika dilihat lebih jauh, sosok perempuan bersuami dan beranak itu hanyalah sebuah baju yang dikenakan oleh kaum Ibu, sebenarnya lebih dari itu semua ada begitu banyak pikulan yang harus ditanggung di pundaknya. Mungkin pandangan yang lebih tepat kepada Ibu adalah mahluk perkasa berhati baja dan dengan beberapa pasang tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu senantiasa dituntut untuk menunaikan kewajibannya yaitu menjalankan rumah tangganya, melayani suami dan mendidik serta merawat anak, namun tidak sesimpel itu pelaksanaannya.&lt;br /&gt;Pekerjaan mengatur rumah tangga saja bisa menyita waktu 24 jam, dari mulai mencuci, memasak, belanja, menyusun neraca pengeluaran, ataupun menata rumah, itu semua bukan pekerjaan singkat dan mudah, sifatnya yang menjadi rutinitas makin membuat pekerjaan ini begitu melelahkan dan membosankan. Untuk sebagian Ibu yang bernasib baik dapat membayar jasa pembantu rumah tangga untuk membantu menyelesaikan pekerjaan, itupun bukan berarti sang Ibu bisa bersantai dan berbebas tugas, ia tetap harus melakukan kewajiban pemantauan atas pekerjaan para pembantunya. Dan penggunaan jasa baby sitter pun semakin marak di kalangan orang yang berpenghasilan cukup, namun tetap saja sosok Ibu yang paling diharapkan oleh sang anak, pola asuh seorang ibu tak bisa digantikan oleh apapun, dan tatib bekerja bagi para baby sitter ini pun tetap datang dari sang ibu.&lt;br /&gt;Untuk urusan melayani suami, tentu tidak bisa didistribusikan kepada siapapun, bahkan dalam ajaran agama Islam disebutkan bahwa perempuan dilarang keras menolak permintaan layanan seksual yang diminta suaminya kecuali perempuan tersebut dalam kondisi sakit lelah dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa seorang Ibu yang berbaju ganda sebagi istri memiliki kewajiban absolute untuk tetap melayani suami. Sesibuk dan sepadat apapun tugas Ibu, tugas ini tetap merupakan menu wajib yang harus dijalankan oleh seorang ibu.&lt;br /&gt;Masalah pengurusan anak, tidak perlu ditanyakan lagi, jelas fungsi Ibu sangat optimal disana, mengingat pada diri seorang Ibu memang telah dititipi amanah oleh Allah untuk menyampaikan ASI kepada buah hati mereka sebagai amunisi dasar bagi sang anak untuk kuat menghadapi hidup, kemudian hanya pada tubuh seorang Ibu pulalah ditempatkan rahim sebagai kantung awal kehidupan bagi seorang anak.&lt;br /&gt;Mengapa hanya kaum Ibu yang dititipkan itu semua? Mengapa bukan kaum laki- laki yang notabene-nya memiliki tubuh lebih kuat dan lebih perkasa yang dititipi amanah itu? Jawabannya hanya satu yaitu karena seorang Ibu memiliki hati yang lebih lapang untuk mencinta, memberi kasih dengan segenap kelembutan. Ternyata bukan hanya sekedar tubuh yang kuat dan kekar yang diperlukan untuk memikul amanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas berat itu kadangkala harus dibagi dengan tugas mencari nafkah, pada era sekarang tugas mencari nafkah bukan saja diemban oleh kaum laki-laki sebagai kepala keluarga. Dan dengan alasan yang begitu mulia pula, seorang Ibu ikut terjun mencari nafkah membantu pelaksanaan tugas suami agar roda kehidupan rumah tangga mereka tetap berjalan dengan baik, kebutuhan anak- anak tetap terpenuhi dan yang pasti kebutuhan aktualisasi si Ibu juga tetap terpenuhi.&lt;br /&gt;Dan makin bisa terbanyangkan berapa banyak cabang pikiran yang ada di kepala seorang Ibu, dan semuanya harus berjalan dengan serentak.&lt;br /&gt;Tidak semua Ibu beruntung memiliki pendapatan lebih untuk membayar jasa pembantu rumah tangga ataupun baby sitter, sehingga mereka harus menjalankan semuanya sendiri. Bukan hal yang aneh pula bila seorang Ibu bekerja harus turut mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri, memenuhi keperluan suami dan mendidik anaknya sendiri. Kita bisa menemui di jalan – jalan, di angkot- angkot, di bis kota- bis kota, seorang Ibu berwajah lelah, beratribut kantor dilengkapi tas kerja di tangan kanan dan tangan kiri menjinjing keranjang sayuran, sambil bergelayutan di padatnya kendaraan umum, dan sesampainya dirumah merekapun sudah dinanti dengan segudang pekerjaan rumah tangganya.&lt;br /&gt;Untuk kehidupan pedesaan, kita juga tak jarang melihat Ibu- Ibu di pagi buta sudah mencari air, memasak, lalu berangkat ke sungai untuk mencuci dan ketika matahari mulai tinggi mereka berladang sampai matahari terbenam, setelah itu mereka kembali kerumah untuk menyiapkan sajian makan malam untuk keluarga tercinta.&lt;br /&gt;Pemandangan serupa juga dapat kita temui di pasar- pasar, bahkan di ruas jalan tol menjelang dini hari kita bisa menyaksikan mobil- mobil bak terbuka yang dipenuhi kaum Ibu yang berdiri berdesakan dengan bahan sayur- mayur yang akan dijual ke pasar, mereka begitu tegar, berdiri berjam- jam diatas mobil bak terbuka menerjangang angin malam. Dan sepulang dari berjualan mereka pun telah dinanti dengan segudang tugas rumah tangga, tugas melayani suami dan mendidik anak- anak.&lt;br /&gt;Mungkin kekaguman kita terhadap sosok Ibu bisa kita tambahkan bila kita membayangkan bagaimana beratnya mereka membawa bayi yang kian hari kian membesar dalam perutnya selama 9 bulan?dan bila saatnya tiba maka mereka pun harus kembali berjuang mengeluarkan bayi itu dari dalam perutnya, pernahkan kita membayangkan betapa sakitnya mengeluarkan benda sebesar bayi dari dalam tubuh?tak jarang dari mereka akhirnya merelakan nyawanya karena sudah tak kuat meneruskan usaha keras mereka untuk mengeluarkan bayi dari rahimnya. Sungguh tugas yang berat dan beresiko tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak cerita perjuangan sehari- hari seorang Ibu yang bisa kita temui dimana saja, dipinggir jalan, di warung- warung emperan, di terminal, di mal, di kantor, di rumah sakit, dimana saja kita bisa mencermati bahwa begitu kompleksnya tugas yang diemban oleh seorang Ibu, apalagi mereka- mereka yang memang hidup dalam keluarga yang kekuarangan secara materi yang mana fasilitas atau kemudahan apapun sulit untuk didapat. Yang pasti apapun latar dari cerita perjuangan hidup mereka, menyandang dan menjalankan predikat sebagai Ibu ternyata jauh dari kesan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ironisnya, di tengah kompleksnya perjuangan hidup seorang Ibu, masih banyak hal- hal yang sama sekali mengesankan tidak menghargai adanya perjuangan-perjuangan itu. Banyak hak-hak kaum Ibu yang disunat, bahkan perlindungan terhadap kaum Ibupun dipertanyakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya perselingkuhan yang dilakukan oleh kaum suami dengan berbagai alasan, penganiayaan fisik kaum Ibu dalam rumah tangga bahkan kekerasan- kerasan non fisik yang diterima oleh kaum Ibu dalam rumah tanggapun masih menjadi pemandangan hari- hari dan tak kalah ketinggalan praktik poligami ‘liar’ pun tumbuh subur dengan mengatasnamakan ajaran agama.&lt;br /&gt;Apakah itu apresiasi yang tepat bagi kaum Ibu?apakah pantas perjuangan hidup mereka dibayar dengan hal- hal demikian?&lt;br /&gt;Di hari ini, hari Ibu mari kita beri mereka kado terbaik untuk perjuangan mereka, sebuah penghargaan dengan tulus bahwa kita harus menentang segala bentuk kejahatan apapun yang mengancam mereka. Dukung sosialisasi UU KDRT dan mari kita sokong pemerintah merevisi UU Perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Ibu Untuk Semua Kaum Ibu Tercinta, 22 Desember 2006, Erry Tri Merryta Riyadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-3160160879568926561?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/3160160879568926561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=3160160879568926561&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/3160160879568926561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/3160160879568926561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/selamat-hari-ibu.html' title='SELAMAT HARI IBU'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYtnBdZ_z7I/AAAAAAAAAAY/nbgKB9XIb0k/s72-c/antre.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-6381899465993382724</id><published>2006-12-19T00:13:00.000-08:00</published><updated>2006-12-19T01:24:10.533-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Puisi- Puisi Saya</title><content type='html'>mmm....membuat puisi sebenarnya bukanlah hal yang baru buat saya, selain suka membacanya saya suka sekali mencoba menuangkan pikiran saya kedalamnya, ya...walaupun masih sangat sederhana, tapi saya cukup puas dengan puisi- puisi buatan saya. Walau mungkin belum terlalu indah, tetapi inilah isi hati dan kepala saya. Hari ini, seorang sahabat saya, Gita, berkomentar kalau dia sangat terinspirasi dengan salah satu puisi buatan saya yang pernah saya post di blog friendster saya. Maka saya berfikir, untuk mengepost puisi- puisi saya lainnya disini, semoga dapat dinikmati oleh teman- teman dan semoga ada Gita- Gita yang lain yang juga terinspirasi dengan tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;AKAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan adakah suatu pagi&lt;br /&gt;Dimana dadaku tak lagi sesak&lt;br /&gt;karena sepi.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan datangkah hari&lt;br /&gt;Dimana aku lega&lt;br /&gt;Karena ku tau harus menunggu siapa......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan hadirkah suatu malam&lt;br /&gt;Dimana aku ‘kan nyenyak&lt;br /&gt;Di pelukan hangat seorang kekasih......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku Cuma berkelakar&lt;br /&gt;Andai saat- saat itu tiba,&lt;br /&gt;Aku pasti girang tak terkira&lt;br /&gt;Karena kaulah yang pasti ada disana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Bandar Lampung,13 Oktober 2003&lt;br /&gt;Erry Merryta&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-6381899465993382724?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/6381899465993382724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=6381899465993382724&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/6381899465993382724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/6381899465993382724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/puisi-puisi-saya.html' title='Puisi- Puisi Saya'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-108861099891983130</id><published>2006-12-17T21:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T10:03:59.612-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Selamat Hari Buruh Migran Internasional!!!!!!!!!!!!!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYZCtNZ_z6I/AAAAAAAAAAM/UggxOBORRtA/s1600-h/Aksi+buruh+migran.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5009764979956502434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYZCtNZ_z6I/AAAAAAAAAAM/UggxOBORRtA/s320/Aksi+buruh+migran.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini 18 Desember 2006, hari buruh Migran Internasional, saya cuma make a wish dalam hati, semoga saja TKI Indonesia memperoleh kehidupan dan perhatian lebih dari pemerintah. Selama ini para pahlawan devisa kita itu adalah kaum terjajah dan teraniaya, mereka terancam keselamatannya di negeri orang, dipalak di negeri sendiri dan tak dipedulikan seolah sampah.&lt;br /&gt;Kalau mengikuti hati saya, saya sangat sedih melihat kenyataan ini, mengapa rakyat kita harus cari makan di Negara orang, jadi “bedinde” doang lagi, apakah sesuap nasi, selembar pakaian dan sepetak rumah layak tak mampu disediakan oleh bangsa besar ini kepada rakyatnya?, hingga rakyatnya harus woro- woro “mbabu” di Negara orang?&lt;br /&gt;Saya nangis kalau membayangkan itu, bayangkan rekan-rekan TKI itu sebelum berangkat “mbabu” saja sudah diperah di negaranya sendiri, kebanyakan dari mereka, maksud saya mereka-mereka yang kurang beruntung harus hidup setengah gak layak di penampungan, keluar duit banyak meskipun untuk buang hajat dan hidup empet-empetan kayak ayam yang siap dipotong, itu masih di Negara sendiri, belum dikirim…Pas dikirim, beberapa dari mereka yang engga beruntung, dapet majikan yang kejam berhati tiga perempat iblis, yang rela nyiksa, memperkosa, gak ngasih makan dan yang parah gak digaji, Tuhaaaaan….&lt;br /&gt;Dan nasib buruk gak sampai situ aja, ketika pulang pun mereka harus nerima perlakuan kejam pula dari bangsanya sendiri, Terminal III, adalah momok bagi TKI, disana mereka di palak dan di preteli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kompleksnya penderitaan mereka, saya membayangkan saja sudah merinding, kenapa Pemerintah belum melakukan action yang berarti?Saya engga pernah mimpi kok kalo Perintah harus menjadi superman mendadak, saya cuma berharap pemerintah sedikit saja memberi perhatiannya, minimal mulailah tertibkan Terminal III, hentikan pemalakan dan penjarahan TKI disana, mereka adalah pahlawan devisa kita, merekalah korban ketidak berhasilan bangsa ini menghidupi dan memajukan mereka, mengapa mereka harus kembali menjadi sapi perah di terminal kepulangan mereka?Haruskah kita budek dan buta melihat kenyataan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Selamat Hari Buruh Migran Internasional, 18 Desember 2006, Legal Counsel Room, 12:39&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-108861099891983130?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/108861099891983130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=108861099891983130&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/108861099891983130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/108861099891983130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/selamat-hari-buruh-migran-internasional.html' title='Selamat Hari Buruh Migran Internasional!!!!!!!!!!!!!!'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AmN-OcSoQqA/RYZCtNZ_z6I/AAAAAAAAAAM/UggxOBORRtA/s72-c/Aksi+buruh+migran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3193242022633328473.post-7373319073054613184</id><published>2006-12-15T02:27:00.000-08:00</published><updated>2006-12-17T23:34:17.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Saya'/><title type='text'>Prakata</title><content type='html'>Assalamualaikum...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai semua, saya pemain baru nih disini, jadi mohon maaf sekiranya masih kliatan compang camping gini blog saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan penulis handal ataupun penulis berbakat, saya cuma ingin mengeluarkan uneg- uneg saya diblog ini.&lt;br /&gt;Dalam blog saya mungkin teman-teman akan banyak menemukan tulisan mengenai perempuan dan anak- anak, karena itulah interest saya. Entah karena saya adalah perempuan dan seorang ibu, yang pasti dalam kehidupan nyata saya masih sering melihat hak- hak perempuan dan anak- anak masih "dikebiri".&lt;br /&gt;Semoga blog ini bisa membantu memberikan informasi yang dibutuhkan untuk perjuangan kaum perempuan dan anak- anak Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini baru nilah yang bisa saya lakukan, semoga kedepannya saya bisa melakukan yang lebih baik dan lebih kongkrit, amien.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamualaikum,&lt;br /&gt;Erry Tri Merryta Riyadi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3193242022633328473-7373319073054613184?l=erryriyadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://erryriyadi.blogspot.com/feeds/7373319073054613184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3193242022633328473&amp;postID=7373319073054613184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/7373319073054613184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3193242022633328473/posts/default/7373319073054613184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://erryriyadi.blogspot.com/2006/12/prakata.html' title='Prakata'/><author><name>erry riyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05349797971757698552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
